hai, mari merenung.
kadang kalo pikiran lagi bener, saya suka kepikiran. mungkin selama ini Tuhan menjadikan kehadiran seseorang di hidup saya sebagai ujian buat saya. orang-orang seperti bapak, ibu, adik, kakak, kerabat, tetangga, teman, rekan kerja dan lain-lain. orang yang menyebalkan yang karena kehadirannya saya sempat berpikir mengapa harus ada dia di hidup saya. bukankah lebih baik kalau orang seperti itu tidak ada.
ah, memang jahat sekali pikiran ini. dia loh jadi seperti itu pasti bukan karena keinginannya. itu peran yang memang dihadiahkan Tuhan untuk dia lakoni.
orang seperti itu mungkin sebenarnya diciptakan bukan hanya untuk menguji saya. tapi karena orang sebelum saya gak kuat, jadi dialihkan ke saya. haha. seandainya saya ikut-ikutan tidak mengakui keberadaannya, kasihan sekali, kan? siapa yang akan menerima dia?
bukankah sebenarnya yang terjadi dalam ujian ini cukup sederhana?
kalau dia mengganggu atau merusak hidup saya dan saya bersabar, maka dia berdosa sedangkan saya berpahala. tapi jika saya tidak sabar dan membalas perlakuannya, justru saya berdosa.
kita berdoa karena tahu bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. mungkin yang sebenarnya perlu direvisi adalah doa-doa kita selama ini. mengapa kita lebih sering berdoa meminta dikurangi jatah dan level ujiannya? apakah kita selemah itu? bukankah sebaiknya meminta lebih dikuatkan? itu tandanya kita lebih siap meski level ujiannya bertambah.
bagaimana pun juga, mereka yang terkadang tidak diharapkan kehadirannya, adalah sama-sama manusia. mengapa harus seolah kita yang menghakiminya?