Selasa, 04 Agustus 2020

UJIAN


hai, mari merenung.

kadang kalo pikiran lagi bener, saya suka kepikiran. mungkin selama ini Tuhan menjadikan kehadiran seseorang di hidup saya sebagai ujian buat saya. orang-orang seperti bapak, ibu, adik, kakak, kerabat, tetangga, teman, rekan kerja dan lain-lain. orang yang menyebalkan yang karena kehadirannya saya sempat berpikir mengapa harus ada dia di hidup saya. bukankah lebih baik kalau orang seperti itu tidak ada.

ah, memang jahat sekali pikiran ini. dia loh jadi seperti itu pasti bukan karena keinginannya. itu peran yang memang dihadiahkan Tuhan untuk dia lakoni.
orang seperti itu mungkin sebenarnya diciptakan bukan hanya untuk menguji saya. tapi karena orang sebelum saya gak kuat, jadi dialihkan ke saya. haha. seandainya saya ikut-ikutan tidak mengakui keberadaannya, kasihan sekali, kan? siapa yang akan menerima dia?

bukankah sebenarnya yang terjadi dalam ujian ini cukup sederhana?
kalau dia mengganggu atau merusak hidup saya dan saya bersabar, maka dia berdosa sedangkan saya berpahala. tapi jika saya tidak sabar dan membalas perlakuannya, justru saya berdosa.

kita berdoa karena tahu bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. mungkin yang sebenarnya perlu direvisi adalah doa-doa kita selama ini. mengapa kita lebih sering berdoa meminta dikurangi jatah dan level ujiannya? apakah kita selemah itu? bukankah sebaiknya meminta lebih dikuatkan? itu tandanya kita lebih siap meski level ujiannya bertambah.

bagaimana pun juga, mereka yang terkadang tidak diharapkan kehadirannya, adalah sama-sama manusia. mengapa harus seolah kita yang menghakiminya?

belajar dari belajar

hai, mari bercerita.

seperti kepala saya baru saja dipenuhi pertanyaan. menyebalkan sekali. bikin tambah pusing saja. mulai dari mana ya?

Ah, ya.
seberapa penting ijazah buat anda? apa yang kamu cari dari belajar? apa yang kita harapkan dari sebuah sistem pendidikan?

Saya heran dengan beberapa orang, kok kelihatannya menyepelekan sekali dengan pendidikan dan belajar. UN sudah ditiadakan, kelulusan ditentukan oleh sekolah, sistem pembelajaran semakin diperbarui, tapi kok saya makin tidak tahu arah ya.
pernah saya tanya pada beberapa siswa, "kalau kamu lulus tapi gak dapet ijazah gimana?" kebanyakan dari mereka menjawab ijazah itu penting. buat apa sekolah kalau tidak punya ijazah.
benar juga sih, tiga tahun bukan waktu dan biaya yang sedikit. buku lah, seragam lam, uang ini lah itu lah. hanya untuk selembar kertas yang (menurut saya) tidak menunjukkan kemampuan seseorang.

kadang ada juga siswa yang curhat, mereka mau kuliah jurusan A tapi orangtuanya bilang "jangan masuk jurusan A, karena prospek kerjanya kurang bagus". bahkan ada juga yang bingung mau pilih jurusan apa.
Maksud saya, mengapa semua harus selalu berorientasi pada pekerjaan dan uang?

saya akui bekerja adalah cara menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan. bagaimanapun juga setiap orang perlu uang. mulai dari jajan seblak buat anak atau beli skincare buat istri. tapi jika melulu soal gaji dan penghasilan, apa anda pernah tau upah dan pendapatan para pegiat seni dan literasi?
mereka loh belum tentu punya ijazah, tidak punya gaji tetap tiap bulan, atau tunjangan hari raya. tapi mereka tetap hidup dengan apa yang mereka sukai.

bisa belajar tanpa sekolah, itu hebat. tandanya kita diakui tanpa perlu sebuah lisensi. yang sering terjadi adalah sekolah tanpa belajar. punya ijazah, tapi keterampilan dan kompetensi kita kalah.
kiranya, mungkin itu lah yang membuat orang sekarang kurang menghargai ilmu dan belajar, menghargai guru dan pengajar.

saya jadi bertanya-tanya, apa bedanya pengajar dengan buruh?

ah, lagi-lagi, tau apa sih saya ini.

Minggu, 02 Agustus 2020

membisukan dibisukan


soal ikut-mengikuti di Instagram,
pasti kita pernah menemukan orang yang sudah difollow tapi kok gak mem-follow balik. bahkan sampai dipaksa pun dia enggan. saya termasuk tipe ini. karena menurut saya, itu bukan kewajiban. artinya saya tidak menemukan manfaat dari unggahan anda.
toh saya tidak meminta, apalagi memaksa. setelah tulisan ini pun, kalau ada yang mau unfollow, monggo. itu berarti anda merasa tidak menemukan manfaat dari unggahan saya.

di tempat lain, kita pasti punya beberapa orang di kontak whatsapp yang statusnya kita bisukan. lebih dari itu bisa jadi diblokir. pun sebaliknya, bukan mustahil orang lain melakukan hal yang sama pada status kita. lebih-lebih kita sendiri yang menyembunyikannya dari mereka.
alasannya sederhana, kita tidak mau dia atau mereka melihatnya.

mengapa?

mari sepakati satu hal.
orang-orang memasang status di WhatsApp, mengunggah foto di Instagram, menulis caption di dalamnya, tidak lain karena adanya suatu kepentingan. entah berjualan, pamer, hiburan, atau beberapa hal seperti mendeskripsikan perasaan.

akui saja.
kadang saat butuh seseorang untuk bercerita, kita malah lebih sering mengunggahnya di media. bukan karena benar-benar tidak ada yang bersedia. hanya saja mereka yang merasa mampu menjadi pendengar tidak sependiam dinding lini masa.
siapa yang butuh pendengar, malah siapa yang lebih banyak mendengar. siapa yang ingin bercerita, malah siapa yang lebih banyak bicara.

maka jangan heran soal membisukan dan dibisukan, dilihat dan disembunyikan, disimpan atau dibuang. sederhananya, ada yang layak dan tidak untuk tahu apa dan mengapa.

kadang dilihat atau tidak pun sama saja, kan?
yang peduli akan ada tanpa diminta. sementara yang berpikir bahwa ia peduli hanya akan diam saja.
pada akhirnya, kita menemukan bahwa pilihan itu hanya dua. bercerita di sosial media, atau diam saja.