Minggu, 02 Agustus 2020

membisukan dibisukan


soal ikut-mengikuti di Instagram,
pasti kita pernah menemukan orang yang sudah difollow tapi kok gak mem-follow balik. bahkan sampai dipaksa pun dia enggan. saya termasuk tipe ini. karena menurut saya, itu bukan kewajiban. artinya saya tidak menemukan manfaat dari unggahan anda.
toh saya tidak meminta, apalagi memaksa. setelah tulisan ini pun, kalau ada yang mau unfollow, monggo. itu berarti anda merasa tidak menemukan manfaat dari unggahan saya.

di tempat lain, kita pasti punya beberapa orang di kontak whatsapp yang statusnya kita bisukan. lebih dari itu bisa jadi diblokir. pun sebaliknya, bukan mustahil orang lain melakukan hal yang sama pada status kita. lebih-lebih kita sendiri yang menyembunyikannya dari mereka.
alasannya sederhana, kita tidak mau dia atau mereka melihatnya.

mengapa?

mari sepakati satu hal.
orang-orang memasang status di WhatsApp, mengunggah foto di Instagram, menulis caption di dalamnya, tidak lain karena adanya suatu kepentingan. entah berjualan, pamer, hiburan, atau beberapa hal seperti mendeskripsikan perasaan.

akui saja.
kadang saat butuh seseorang untuk bercerita, kita malah lebih sering mengunggahnya di media. bukan karena benar-benar tidak ada yang bersedia. hanya saja mereka yang merasa mampu menjadi pendengar tidak sependiam dinding lini masa.
siapa yang butuh pendengar, malah siapa yang lebih banyak mendengar. siapa yang ingin bercerita, malah siapa yang lebih banyak bicara.

maka jangan heran soal membisukan dan dibisukan, dilihat dan disembunyikan, disimpan atau dibuang. sederhananya, ada yang layak dan tidak untuk tahu apa dan mengapa.

kadang dilihat atau tidak pun sama saja, kan?
yang peduli akan ada tanpa diminta. sementara yang berpikir bahwa ia peduli hanya akan diam saja.
pada akhirnya, kita menemukan bahwa pilihan itu hanya dua. bercerita di sosial media, atau diam saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar