Sepertinya manusia memang tumbuh bersama sebuah pengalihan. kita seringkali membuat pengalihan-pengalihan untuk menghindar, pergi dan menolak. rasa sakit adalah yang paling sering kita tolak.
saat kanak-kanak kadang kita bermain sampai lupa banyak hal termasuk sayatan, lecet, atau goresan dan luka kecil di kulit bagian luar. kita lebih asyik bermain bukan dengan niatan melupakan rasa sakit, tapi rasa sakit itu memang tidak terasa besar saat pikiran lebih banyak bermain.
pikiran kanak-kanak membawa kita pada kesenangan, rasa gembira, dan terhibur.
kegembiraan, setidaknya menjadi penawar bagi anak-anak. sebabnya, anak-anak jarang berlarut-larut dalak rasa sakit.
semakin menua, entah karena lingkungan atau proses pendewasaan, kita perlahan kehilangan kegembiraan-kegembiraan itu. imajinasi berkurang dan jiwa makin tertekan seiring banyaknya tuntutan. Sebabnya kita tentu pernah merasa ingin kembali menjadi anak-anak. sebabnya, kita kadang menyetujui selogan "tak ingin tumbuh dewasa". karena menjadi anak kecil kadang lebih menyenangkan dan bebas.
Setelah dewasa, pengalihan semacam itu biasanya masih ada. Hanya saja bentuknya berbeda. Intinya, kita seringkali mencari kesenangan untuk melupakan kepahitan hidup. Masalah ada dimana-mana, menekan urat syaraf dan menegangkan otot-otot tubuh. Tidak jarang, ada yang sampai pusing tiba-tiba, jantung berdebar, badan gemetar, perut mual dan sebagainya.
sebab itu, saat masalah datang, pengalihan seperti menonton tv, YouTube, mengunggah kata-kata di media sosial, menonton komedi tunggal, apapun bentuknya, kita senantiasa mengalihkan pikiran buruk/negatif pada hal-hal jenaka dan menyenangkan.
Celakanya, masalah akan tetap ada meski sebaik apapun cara kita menolak dan mengalihkannya, selucu apapun komedi dan lawakan yang kita tertawaan, semeriah apapun musik yang kita nyala dan dengarkan. Di waktu-waktu tertentu, di sela-sela malam saat mata hampir terpejam, kita akan tetap tertekan oleh kesepian, oleh rencana-rencana yang gagal dan berantakan, hubungan yang tidak sehat dan tak karuan, hidup yang bermasalah dan kurangnya kebebasan. Hingga pada akhirnya kita semakin menyerah, terpuruk, dan mengutuk diri sendiri.
Bercerita kepada orang lain adalah hal yang mahal bagi kita. Bukan karena materi atau enggan membuka diri. Hanya saja, menemukan teman yang jadi pendengar terbaik adalah barang langka, meski sebenarnya ada Tuhan yang setia dengan ke-Maha Mendengar-nya.
Tidak ada solusi yang benar-benar tepat. Mengeluh bukan jalan terbaik. Dian pun bukan pilihan tepat. Karena jiwa yang tersiksa oleh pikiran sendiri adalah bom waktu. Siap meledak dan merugikan diri sendiri serta orang lain kapan saja, tanpa diduga-duga.
berdoa memang cukup menenangkan, pengalihan pun cukup menahan kerusakan, tapi tanpa pengobatan kita akan semakin memperparah keadaan.
Menulis adalah salah satu obatnya, dimana saya sedang dan senang melakukannya. menulis adalah sarana yang mudah untuk menuangkan keresahan dan mencairkan tekanan-tekanan itu. Karena saya juga manusia dan masalah adalah makanan sehari-hari bagi setiap individu, maka inilah pengalihan yang bisa saya lakukan.
Sejauh apapun kita menghindar, masalah akan tetap mengejar, maka hadapi jangan ditakuti.