Sabtu, 18 Juli 2020

luka dan melukai, mencari dan menemukan, pergi dan kepergian


kita hanya terlalu sering memaksakan apa yang mungkin sebenarnya tidak pernah ditakdirkan. entah sebagai bentuk kepemilikan atau lebih berharga dari sekedar ikatan. kita terlalu sering menciptakan kehaluan-kehaluan pada diam yang tertekan. entah sebagai bentuk pertahanan atau memang sebegitu sulitnya merelakan. kita terlalu sering meratapi kepergian, bahkan pada yang datang untuk sebatas berkenalan. entah sebagai wujud kekhawatiran atau memang kita terlalu takut kehilangan.

kita perlu mengobati degup demi degup yang mulai tidak beraturan. bertahan lewat segenap laku kebohongan, lewat senyuman kepalsuan, lewat candu yang berlebihan, lewat doa-doa dan permintaan.
kita perlu menarik ulang luka demi luka dari sisa pembantaian. dari perih dan pedih yang ke sekian belum juga disembuhkan, dari isak dan sedu yang menyebalkan, dari pelukan yang hadir sebatas khayalan.

kita perlu berpuasa demi menahan yang perlu tetap disimpan. ruam yang menolak dipertontonkan demi menjaga rahasia yang menyesakkan, lebam yang menyandera aliran-aliran di pembuluh yang menyakitkan, memar yang timbul tenggelam di sisa perbincangan, dan semua yang berkecamuk begitu tajam, menusuk dan menyayat walau hanya dalam bentuk kenangan.

aku benar-benar lelah mengejar seseorang seperti dirimu. aku ingin sekali beristirahat lalu melambaikan tangan tanda menyerah dengan keadaan. namun kau semakin jauh meninggalkan dan aku semakin sulit menemukan. mungkin kita memang dihadapkan pada pertemuan, hanya karena kelak diwajibkan membangun perpisahan. dan bodoh atau bukan, aku masih saja mengejar, walau arah sudah semakin berlawanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar