judulnya click bait sekali yah?
sejujurnya ini hanya cerita. ya, cerita. jadi pertanyaan sendiri bagi saya, bagaimana menjadi orang tua yang baik dan benar?
ada beberapa alasan mengapa pertanyaan itu muncul. pertama, saya belum berkeluarga. saya belum punya anak. jadi belum dan ingin tau bagaimana. agar kelak saat saya punya anak, saya bisa menerapkannya. kedua, sederhana sekali. itu semua tidak pernah saya temukan di kedua orang tua saya.
(gak apa-apa yah, toh mereka gak akan membaca cerita ini).
sejak kecil, keluarga ini bukan keluarga yang berada. "miskin", kalau dulu sebut saja begitu. kalau sekarang saya kurang sreg disebut begitu. "cukup", barangkali lebih enak disebut begitu. bapak cuma kuli di pasar. dulu manggul, sekarang naik sedikit, jadi asisten tukang sayur. umi dulu pekerja pabrik pakaian. sekarang jadi tukang jahit di rumah. itu pun kalau ada tetangga atau kerabat yang perlu. hebat yah, bisa menghidupi dua anak. bahkan anak pertamanya bisa sampai sarjana. si anak pasti bangga dan sayang sekali dengan keluarganya.
sayangnya si anak pertama ini tidak pandai bersyukur. dia masih sering mengeluh. termasuk lewat cerita ini.
dia menomorduakan keluarganya. yang nomor satu siapa? dirinya sendiri.
padahal si anak pertama termasuk tipe yang perasa dan mudah tersentuh hatinya.
apa ini soal harta? materi yang selama 25 tahun ini tidak dimilikinya?
mungkin iya mungkin tidak.
tapi ada satu hal sederhana, yang ia jauh lebih iri pada keluarga lain ketimbang harta. sesuatu yang tidak ia rasakan di keluarganya. kehangatan.
bagaiman mungkin kita pulang ke rumah, jika tidak pernah merasa berada di rumah? bagaimana mungkin ada kenyamanan, jika yang didengar dan dilihat hanya pertengkaran-pertengkaran.
saat usianya masih balita, si anak pertama (waktu itu belum tau apa-apa), sempat diperebutkan oleh bapak-umi-nya yang hampir pisah. hingga singkat cerita, uminya mengalah dan kembali, dengan syarat sebuah rumah. gak enak loh tinggal bareng mertua. suer.
belum selesai sampai disitu, pertengkaran masih sering terjadi lantaran masalah ekonomi. si bapak bukan orang yang gigih dan visioner (kecuali hanya untuk makan sehari-hari). si umi bukan orang yang super sabar (meskipun ia mendaulat dirinya sendiri sudah sabar banget). persoalan ini masih sering terjadi sampai barusan sebelum cerita ini ditulis.
begini. anak kecil hanya mengatakan apa yang ia dengar, dan melakukan apa yang dia lihat. orang tua adalah pengajar dan pendidik pertama di rumah. sengaja atau tidak, diniatkan atau tidak, jangan salahkan jika itu membekas sampai ia dewasa. dan akhirnya benar-benar terjadi. ia benci bapak-umi-nya.
ia benci pada drama-drama kehidupan nyata yang terjadi saat dirinya hendak terlelap.
uminya selalu menekankan "jangan jadi seperti bapak, kamu jadi laki-laki harus bisa diandalkan". sementara di lain hari uminya juga mengatakan "biarpun bapakmu begitu, dia bapakmu. kamu gak boleh melawan dan durhaka".
dua hal yang begitu kontras, bukan?
ada hal lain yang tidak diajarkan orangtua ini pada si anak pertama. tolong dan maaf. dua kata yang sederhana tapi penting. sehabis marah atau setelah pertengkaran terjadi, kadang juga saat si anak rewel dan berakhir dimarahi, orangtuanya tidak pernah meminta maaf, sedikitpun tidak. kecuali setahun sekali dalam bentuk "minal aidin".
saya tidak bermaksud menyalahkan bapak dan umi. mungkin mereka begitu pun karena orangtuanya. hanya saja, kelak saat saya berumahtangga, saya berharap bisa memberi keluarga saya, apa yang tidak saya dapatkan dari orangtua saya.
tidak apa-apa kan cerita hal yang pribadi begini? maaf ya kalau lebay. toh anda tidak kenal saya dan tidak akan peduli juga. anda hanya akan membaca judulnya lalu membacanya tapi tidak sampai habis.
Kepada kedua orangtua saya, kalian gak mungkin baca ini, kan? kita jarang ngobrol dari hati ke hati loh. bahkan rasanya mustahil kita bisa begitu. maaf ya anak kalian ini lancang dan durhaka.
Kepada Allah SWT, Tuhanku Yang Maha Esa, maaf ya saya gak tau caranya mensyen atau tag. Tapi saya yakin Allah pasti baca ini. Tolong perbaiki keluarga ini yah. meskipun dosa saya ini banyak banget.
sejujurnya ini hanya cerita. ya, cerita. jadi pertanyaan sendiri bagi saya, bagaimana menjadi orang tua yang baik dan benar?
ada beberapa alasan mengapa pertanyaan itu muncul. pertama, saya belum berkeluarga. saya belum punya anak. jadi belum dan ingin tau bagaimana. agar kelak saat saya punya anak, saya bisa menerapkannya. kedua, sederhana sekali. itu semua tidak pernah saya temukan di kedua orang tua saya.
(gak apa-apa yah, toh mereka gak akan membaca cerita ini).
sejak kecil, keluarga ini bukan keluarga yang berada. "miskin", kalau dulu sebut saja begitu. kalau sekarang saya kurang sreg disebut begitu. "cukup", barangkali lebih enak disebut begitu. bapak cuma kuli di pasar. dulu manggul, sekarang naik sedikit, jadi asisten tukang sayur. umi dulu pekerja pabrik pakaian. sekarang jadi tukang jahit di rumah. itu pun kalau ada tetangga atau kerabat yang perlu. hebat yah, bisa menghidupi dua anak. bahkan anak pertamanya bisa sampai sarjana. si anak pasti bangga dan sayang sekali dengan keluarganya.
sayangnya si anak pertama ini tidak pandai bersyukur. dia masih sering mengeluh. termasuk lewat cerita ini.
dia menomorduakan keluarganya. yang nomor satu siapa? dirinya sendiri.
padahal si anak pertama termasuk tipe yang perasa dan mudah tersentuh hatinya.
apa ini soal harta? materi yang selama 25 tahun ini tidak dimilikinya?
mungkin iya mungkin tidak.
tapi ada satu hal sederhana, yang ia jauh lebih iri pada keluarga lain ketimbang harta. sesuatu yang tidak ia rasakan di keluarganya. kehangatan.
bagaiman mungkin kita pulang ke rumah, jika tidak pernah merasa berada di rumah? bagaimana mungkin ada kenyamanan, jika yang didengar dan dilihat hanya pertengkaran-pertengkaran.
saat usianya masih balita, si anak pertama (waktu itu belum tau apa-apa), sempat diperebutkan oleh bapak-umi-nya yang hampir pisah. hingga singkat cerita, uminya mengalah dan kembali, dengan syarat sebuah rumah. gak enak loh tinggal bareng mertua. suer.
belum selesai sampai disitu, pertengkaran masih sering terjadi lantaran masalah ekonomi. si bapak bukan orang yang gigih dan visioner (kecuali hanya untuk makan sehari-hari). si umi bukan orang yang super sabar (meskipun ia mendaulat dirinya sendiri sudah sabar banget). persoalan ini masih sering terjadi sampai barusan sebelum cerita ini ditulis.
begini. anak kecil hanya mengatakan apa yang ia dengar, dan melakukan apa yang dia lihat. orang tua adalah pengajar dan pendidik pertama di rumah. sengaja atau tidak, diniatkan atau tidak, jangan salahkan jika itu membekas sampai ia dewasa. dan akhirnya benar-benar terjadi. ia benci bapak-umi-nya.
ia benci pada drama-drama kehidupan nyata yang terjadi saat dirinya hendak terlelap.
uminya selalu menekankan "jangan jadi seperti bapak, kamu jadi laki-laki harus bisa diandalkan". sementara di lain hari uminya juga mengatakan "biarpun bapakmu begitu, dia bapakmu. kamu gak boleh melawan dan durhaka".
dua hal yang begitu kontras, bukan?
ada hal lain yang tidak diajarkan orangtua ini pada si anak pertama. tolong dan maaf. dua kata yang sederhana tapi penting. sehabis marah atau setelah pertengkaran terjadi, kadang juga saat si anak rewel dan berakhir dimarahi, orangtuanya tidak pernah meminta maaf, sedikitpun tidak. kecuali setahun sekali dalam bentuk "minal aidin".
saya tidak bermaksud menyalahkan bapak dan umi. mungkin mereka begitu pun karena orangtuanya. hanya saja, kelak saat saya berumahtangga, saya berharap bisa memberi keluarga saya, apa yang tidak saya dapatkan dari orangtua saya.
tidak apa-apa kan cerita hal yang pribadi begini? maaf ya kalau lebay. toh anda tidak kenal saya dan tidak akan peduli juga. anda hanya akan membaca judulnya lalu membacanya tapi tidak sampai habis.
Kepada kedua orangtua saya, kalian gak mungkin baca ini, kan? kita jarang ngobrol dari hati ke hati loh. bahkan rasanya mustahil kita bisa begitu. maaf ya anak kalian ini lancang dan durhaka.
Kepada Allah SWT, Tuhanku Yang Maha Esa, maaf ya saya gak tau caranya mensyen atau tag. Tapi saya yakin Allah pasti baca ini. Tolong perbaiki keluarga ini yah. meskipun dosa saya ini banyak banget.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar