Jumat, 13 September 2013

sudah selayaknya

mendekatlah..
karna hanya Kau Yang kupunya
hanya Kau Yang Memiliki
tiada selain Engkau

Ini Karyaku Mana Karyamu?????


Remang-Remang Bayangmu
asa dan duga tak lagi terduga
jauh bersama sudah kita berdua
lama memang tak berjumpa
namun hati tetap merasa
***


Kamis, 12 September 2013

Prosa Bebas

سوقي الى لقائك لا يصاف بيبان


Seperti apakah hari-harimu kini, mengingat aku ataukah tidak? Sedang aku disini demikian. Tandanya aku masih berharap, berharap dan berharap.

Ini Ceritaku, Mana ceritamu???

Mengejar Cita Di Tanah Orang

Ketika tinggal di tanah kelahiran anda, mungkin yang tergambar dipikiran anda adalah keinginan untuk sukses di daerah sendiri, di negeri sendiri, di kampung sendiri. Namun realitanya, terkadang seseorang perlu pergi jauh untuk mencari hal baru. Menambah wawasan keilmuan sebagaimana pesan Rosul “Tuntutlah Ilmu Walau Sampai Ke Cina”. Mencari pekerjaan ataupun mencari jodoh yang memang menjadi bagian dari kesuksesan hidup.
Sebagai manusia yang produktif, kita harus idealis. Tak cukup menjadi lulusan SMA, atau sarjana saja. Tak cukup punya keiniginan menjadi juragan atau bos saja, tak cukup punya keinginan menjadi orang terkaya se-kampung saja. Karena apa? Karena Allah memberikan kita akal dan pikiran kepada manusia untuk dioptimalkan. Mengapa harus demikian? Karena itulah cara kita bersyukur, dengan menggunakan apa yang diberikan Tuhan secara maksimal agar terus bertambah dan berkembang. Anda dikatakan bersyukur jika anda memiliki uang seratus ribu lalu anda memanfaatkannya hingga menjadi 150 ribu.
Tiga tahun lalu-mungkin sama seperti anda sekarang-saat memasuki jenjang SMA/MA tak ada sedikitpun gambaran akan kemana setelah lulus, mau melanjutkan kemana? Yang saya sesali adalah, kurangnya pengembangan kemampuan dan kreativitas pribadi dalam bidang akademis maupun non akademis. Sehingga setelah lulus, saya merasa bingung. Bekerja tidak punya kemampuan, berwirausaha tak ada modal, kuliah pun tak ada biaya. Lantas apa?
Sangat melelahkan ketika anda harus menyiapkan kertas polio yang begitu banyak, fotokopi ijazah, KTP dan sebagainya. Lalu kesana-kesini mencari pekerjaan. Membuang-buang uang untuk ongkos dan persyaratan melamar pekerjaan, yang belum tentu diterima dan mudah untuk dijalankan. Berat bukan?
Namun Allah begitu baik. Masih memberikan jalan utnuk hambanya ini. Berkat bantuan dari berbagai pihak di pondok pesantren Al-Mukhlishin- terutama Bpk.Nanag Isom, Ustad Taufik Hidayat dan Bpk.Aden Hasan Basri-saya bisa mengikuti tes seleksi PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) di Bandung pada 4 Juli 2013. Setelah seminggu menunggu, akhirnya hasil tes diumumkan melalui website kemenag. Salah satu peserta yang diterima di Jurusan Bimbingan Konseling Islam FDIK IAIN Sunan Ampel Surabaya adalah saya.
Keterlambatan tidak menjadi masalah bagi saya untuk pergi ke Surabaya. Lantaran kurangnya informasi yang saya akses, saya telat menyiapkan semuanya. Sehingga pergi dengan terburu-buru dan persiapan seadanya. Itu kesalahan yang harus saya perbaiki. Namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Singkat cerita, masih dalam suasana lebaran saya harus melepas semua. Pergi jauh dari keluarga, kampung halaman, teman, saudara, dan “seseorang”. Memang berat rasanya meninggalkan desa tercinta dengan semua kisah mengharukan dan kenangan bahagia yang pernah hadir. Namun saya pun tidak bisa diam di tempat, membungkam ilmu yang seharusnya dikembangkan.Semua itu kini menjadi kenangan manis yang akan menjadi bahan cerita saat saya kembali.
Diperjalanan saya belajar banyak hal walaupun hanya duduk di dalam bus selama lebih dari 15 jam. Pengalaman pahit mengajarkan saya agar “tidak naik bus” jika ingin ke Surabaya. Pahitnya jika sedang tidak beruntung anda bisa di transkrip alias dipindah bus ketika di tengah perjalanan, tentunya harus menambah biaya lagi. Selain itu, saat anda turun di terminal bus, akan ada banyak orang yang menunggu anda. Untuk apa? Untuk mengambil uang anda. Saat itu saya tidak beruntung lantaran lelah mungkin, juga belum mengerti apa-apa tepatnya. Saat turun dari bus saya dipaksa untuk naik taxi (taxi dengan mobil pribadi) dengan biaya yang cukup mahal buat saya. Sialnya lagi saya salah tempat. Harusnya dari terminal saya menuju Green SA (hotel tempat saya menginap saat acara Pre-university) namun saya malah menuju kampus. Alhasil saya harus menambah ongkos lagi agar bisa ke tempat tujuan.
Pengalaman pahit tentu ada pula yang manis. Di Green SA saya mendapat sambutan yang baik dari panitia walaupun saya yang paling terlambat hadir. Disana peserta PBSB mendapat fasilitas yang “enak” (dalam arti belum pernah saya rasakan). Kamar full AC, TV, makan gratis, pokoknya “enak”. Panitia yang kekeluargaan membuat rasa kesepian ini perlahan menghilang. Karena keakraban bersama mereka terus berjalan hingga kini.
Selama satu minggu di Green SA saya dan peserta lainnya mendapatkan pembekalan mengenai kamupus, pesantren, jurusan dan sebagainya guna menambah pengetahuan. Tentu tidak mungkin saya ceritakan semua karena akan menghabiskan banyak halaman. Satu hal yang paling berkesan di akhir kegiatan pre-university, sebelum kembali ke PesMa (Pesantren Mahasiswa) di kampus, terlebih dahulu kami berangkat ke luar kota Surabaya. Itulah pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Madura. Berziarah ke makam Syeikh Kholil (ulama setempat) dan melintasi jembatan yang terpanjang di Asia, jembatan Suramadu.
Kembali menyingkat cerita, kegiatan sebelum perkuliahan diawali dengan OSCAAR (ospek fakultas) FDIK. Tentu semua tahu rasanya dibentak oleh kakak kelas, disuruh ini dan itu, dimaki-maki hanya karena kesalahan kecil. Tapi saya bersyukur, karena saya dari Bogor yang notabenenya berbahasa sunda, jadi sekasar dan sekeras apapun perkataan mereka, saya tidak akan mengerti perkataan mereka yang berbahasa jawa. Maka  tidak akan terasa menyakitkan di hati. Di akhir OSCAAR ada kebanggaan tersendiri di hati, ketika disebutkan nama “Khoirul Akbar” sebagai peserta terbaik OSCAAR Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Entah itu keberuntungan atau kelebihan tersendiri.
Tak ada yang istimewa dari kehidupan jika bukan anda sendiri yang membuatnya istimewa. Mungkin bagi anda cerita ini membosankan dan tak berarti apapun. Namun bagi aktor dalam cerita ini, semua itu sangatlah menarik dan berkesan. Jangan pernah lari dari sesuatu jika anda ingin mencoba. Jangan pernah takut melakukan suatu kebaikan jika anda bisa melakukannya lebih baik. Jika anda takut akan sesuatu, lakukanlah hal yang membuat anda takut, maka perlahan ketakutan itu akan hilang (Prof.Moh.Ali Aziz-Guru besar IAIN Sunan Ampel).

Tetaplah semangat kawan, hidup memang tak selalu baik. Namun apa yang anda alami dengan segala kesungguhan yang anda lakukan, adalah takdir terbaik yang Allah berikan kepada anda. Demikian sekilas perjalanan saya, semoga menginspirasi anda semua. Salam satu jiwa.