Mengejar Cita Di Tanah Orang
Ketika tinggal
di tanah kelahiran anda, mungkin yang tergambar dipikiran anda adalah keinginan
untuk sukses di daerah sendiri, di negeri sendiri, di kampung sendiri. Namun realitanya,
terkadang seseorang perlu pergi jauh untuk mencari hal baru. Menambah wawasan
keilmuan sebagaimana pesan Rosul “Tuntutlah Ilmu Walau Sampai Ke Cina”. Mencari
pekerjaan ataupun mencari jodoh yang memang menjadi bagian dari kesuksesan
hidup.
Sebagai manusia
yang produktif, kita harus idealis. Tak cukup menjadi lulusan SMA, atau sarjana
saja. Tak cukup punya keiniginan menjadi juragan atau bos saja, tak cukup punya
keinginan menjadi orang terkaya se-kampung saja. Karena apa? Karena Allah
memberikan kita akal dan pikiran kepada manusia untuk dioptimalkan. Mengapa harus
demikian? Karena itulah cara kita bersyukur, dengan menggunakan apa yang
diberikan Tuhan secara maksimal agar terus bertambah dan berkembang. Anda dikatakan
bersyukur jika anda memiliki uang seratus ribu lalu anda memanfaatkannya hingga
menjadi 150 ribu.
Tiga tahun
lalu-mungkin sama seperti anda sekarang-saat memasuki jenjang SMA/MA tak ada sedikitpun
gambaran akan kemana setelah lulus, mau melanjutkan kemana? Yang saya sesali
adalah, kurangnya pengembangan kemampuan dan kreativitas pribadi dalam bidang
akademis maupun non akademis. Sehingga setelah lulus, saya merasa bingung. Bekerja
tidak punya kemampuan, berwirausaha tak ada modal, kuliah pun tak ada biaya. Lantas
apa?
Sangat melelahkan
ketika anda harus menyiapkan kertas polio yang begitu banyak, fotokopi ijazah,
KTP dan sebagainya. Lalu kesana-kesini mencari pekerjaan. Membuang-buang uang
untuk ongkos dan persyaratan melamar pekerjaan, yang belum tentu diterima dan
mudah untuk dijalankan. Berat bukan?
Namun Allah begitu
baik. Masih memberikan jalan utnuk hambanya ini. Berkat bantuan dari berbagai
pihak di pondok pesantren Al-Mukhlishin- terutama Bpk.Nanag Isom, Ustad Taufik
Hidayat dan Bpk.Aden Hasan Basri-saya bisa mengikuti tes seleksi PBSB (Program
Beasiswa Santri Berprestasi) di Bandung pada 4 Juli 2013. Setelah seminggu menunggu,
akhirnya hasil tes diumumkan melalui website kemenag. Salah satu peserta yang
diterima di Jurusan Bimbingan Konseling Islam FDIK IAIN Sunan Ampel Surabaya
adalah saya.
Keterlambatan tidak
menjadi masalah bagi saya untuk pergi ke Surabaya. Lantaran kurangnya informasi
yang saya akses, saya telat menyiapkan semuanya. Sehingga pergi dengan
terburu-buru dan persiapan seadanya. Itu kesalahan yang harus saya perbaiki. Namun
lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Singkat cerita, masih dalam
suasana lebaran saya harus melepas semua. Pergi jauh dari keluarga, kampung halaman,
teman, saudara, dan “seseorang”. Memang berat rasanya meninggalkan desa
tercinta dengan semua kisah mengharukan dan kenangan bahagia yang pernah hadir.
Namun saya pun tidak bisa diam di tempat, membungkam ilmu yang seharusnya
dikembangkan.Semua itu kini menjadi kenangan manis yang akan menjadi bahan
cerita saat saya kembali.
Diperjalanan saya
belajar banyak hal walaupun hanya duduk di dalam bus selama lebih dari 15 jam. Pengalaman
pahit mengajarkan saya agar “tidak naik bus” jika ingin ke Surabaya. Pahitnya jika
sedang tidak beruntung anda bisa di transkrip alias dipindah bus ketika di tengah
perjalanan, tentunya harus menambah biaya lagi. Selain itu, saat anda turun di
terminal bus, akan ada banyak orang yang menunggu anda. Untuk apa? Untuk mengambil
uang anda. Saat itu saya tidak beruntung lantaran lelah mungkin, juga belum mengerti
apa-apa tepatnya. Saat turun dari bus saya dipaksa untuk naik taxi (taxi dengan
mobil pribadi) dengan biaya yang cukup mahal buat saya. Sialnya lagi saya salah
tempat. Harusnya dari terminal saya menuju Green SA (hotel tempat saya menginap
saat acara Pre-university) namun saya malah menuju kampus. Alhasil saya harus
menambah ongkos lagi agar bisa ke tempat tujuan.
Pengalaman pahit
tentu ada pula yang manis. Di Green SA saya mendapat sambutan yang baik dari
panitia walaupun saya yang paling terlambat hadir. Disana peserta PBSB mendapat
fasilitas yang “enak” (dalam arti belum pernah saya rasakan). Kamar full AC,
TV, makan gratis, pokoknya “enak”. Panitia yang kekeluargaan membuat rasa
kesepian ini perlahan menghilang. Karena keakraban bersama mereka terus
berjalan hingga kini.
Selama satu
minggu di Green SA saya dan peserta lainnya mendapatkan pembekalan mengenai
kamupus, pesantren, jurusan dan sebagainya guna menambah pengetahuan. Tentu tidak
mungkin saya ceritakan semua karena akan menghabiskan banyak halaman. Satu hal
yang paling berkesan di akhir kegiatan pre-university, sebelum kembali ke PesMa
(Pesantren Mahasiswa) di kampus, terlebih dahulu kami berangkat ke luar kota
Surabaya. Itulah pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Madura. Berziarah ke
makam Syeikh Kholil (ulama setempat) dan melintasi jembatan yang terpanjang di
Asia, jembatan Suramadu.
Kembali menyingkat cerita, kegiatan sebelum perkuliahan diawali
dengan OSCAAR (ospek fakultas) FDIK. Tentu semua tahu rasanya dibentak oleh
kakak kelas, disuruh ini dan itu, dimaki-maki hanya karena kesalahan kecil. Tapi
saya bersyukur, karena saya dari Bogor yang notabenenya berbahasa sunda, jadi
sekasar dan sekeras apapun perkataan mereka, saya tidak akan mengerti perkataan
mereka yang berbahasa jawa. Maka tidak akan
terasa menyakitkan di hati. Di akhir OSCAAR ada kebanggaan tersendiri di hati,
ketika disebutkan nama “Khoirul Akbar” sebagai peserta terbaik OSCAAR Fakultas
Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Entah itu keberuntungan atau kelebihan tersendiri.
Tak ada yang
istimewa dari kehidupan jika bukan anda sendiri yang membuatnya istimewa. Mungkin
bagi anda cerita ini membosankan dan tak berarti apapun. Namun bagi aktor dalam
cerita ini, semua itu sangatlah menarik dan berkesan. Jangan pernah lari dari
sesuatu jika anda ingin mencoba. Jangan pernah takut melakukan suatu kebaikan
jika anda bisa melakukannya lebih baik. Jika anda takut akan sesuatu,
lakukanlah hal yang membuat anda takut, maka perlahan ketakutan itu akan hilang
(Prof.Moh.Ali Aziz-Guru besar IAIN Sunan Ampel).
Tetaplah semangat
kawan, hidup memang tak selalu baik. Namun apa yang anda alami dengan segala
kesungguhan yang anda lakukan, adalah takdir terbaik yang Allah berikan kepada
anda. Demikian sekilas perjalanan saya, semoga menginspirasi anda semua. Salam satu
jiwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar