Rabu, 29 Juli 2020

Cara menjadi orangtua yang baik dan benar



judulnya click bait sekali yah?
sejujurnya ini hanya cerita. ya, cerita. jadi pertanyaan sendiri bagi saya, bagaimana  menjadi orang tua yang baik dan benar?
ada beberapa alasan mengapa pertanyaan itu muncul. pertama, saya belum berkeluarga. saya belum punya anak. jadi belum dan ingin tau bagaimana. agar kelak saat saya punya anak, saya bisa menerapkannya. kedua, sederhana sekali. itu semua tidak pernah saya temukan di kedua orang tua saya.
(gak apa-apa yah, toh mereka gak akan membaca cerita ini).

sejak kecil, keluarga ini bukan keluarga yang berada. "miskin", kalau dulu sebut saja begitu. kalau sekarang saya kurang sreg disebut begitu. "cukup", barangkali lebih enak disebut begitu. bapak cuma kuli di pasar. dulu manggul, sekarang naik sedikit, jadi asisten tukang sayur. umi dulu pekerja pabrik pakaian. sekarang jadi tukang jahit di rumah. itu pun kalau ada tetangga atau kerabat yang perlu. hebat yah, bisa menghidupi dua anak. bahkan anak pertamanya bisa sampai sarjana. si anak pasti bangga dan sayang sekali dengan keluarganya.

sayangnya si anak pertama ini tidak pandai bersyukur. dia masih sering mengeluh. termasuk lewat cerita ini.
dia menomorduakan keluarganya. yang nomor satu siapa? dirinya sendiri.
padahal si anak pertama termasuk tipe yang perasa dan mudah tersentuh hatinya.
apa ini soal harta? materi yang selama 25 tahun ini tidak dimilikinya?
mungkin iya mungkin tidak.
tapi ada satu hal sederhana, yang ia jauh lebih iri pada keluarga lain ketimbang harta. sesuatu yang tidak ia rasakan di keluarganya. kehangatan.
bagaiman mungkin kita pulang ke rumah, jika tidak pernah merasa berada di rumah? bagaimana mungkin ada kenyamanan, jika yang didengar dan dilihat hanya pertengkaran-pertengkaran.

saat usianya masih balita, si anak pertama (waktu itu belum tau apa-apa), sempat diperebutkan oleh bapak-umi-nya yang hampir pisah. hingga singkat cerita, uminya mengalah dan kembali, dengan syarat sebuah rumah. gak enak loh tinggal bareng mertua. suer.

belum selesai sampai disitu, pertengkaran masih sering terjadi lantaran masalah ekonomi. si bapak bukan orang yang gigih dan visioner (kecuali hanya untuk makan sehari-hari). si umi bukan orang yang super sabar (meskipun ia mendaulat dirinya sendiri sudah sabar banget). persoalan ini masih sering terjadi sampai barusan sebelum cerita ini ditulis.

begini. anak kecil hanya mengatakan apa yang ia dengar, dan melakukan apa yang dia lihat. orang tua adalah pengajar dan pendidik pertama di rumah. sengaja atau tidak, diniatkan atau tidak, jangan salahkan jika itu membekas sampai ia dewasa. dan akhirnya benar-benar terjadi. ia benci bapak-umi-nya.
ia benci pada drama-drama kehidupan nyata yang terjadi saat dirinya hendak terlelap.

uminya selalu menekankan "jangan jadi seperti bapak, kamu jadi laki-laki harus bisa diandalkan". sementara di lain hari uminya juga mengatakan "biarpun bapakmu begitu, dia bapakmu. kamu gak boleh melawan dan durhaka".
dua hal yang begitu kontras, bukan?

ada hal lain yang tidak diajarkan orangtua ini pada si anak pertama. tolong dan maaf. dua kata yang sederhana tapi penting. sehabis marah atau setelah pertengkaran terjadi, kadang juga saat si anak rewel dan berakhir dimarahi, orangtuanya tidak pernah meminta maaf, sedikitpun tidak. kecuali setahun sekali dalam bentuk "minal aidin".

saya tidak bermaksud menyalahkan bapak dan umi. mungkin mereka begitu pun karena orangtuanya. hanya saja, kelak saat saya berumahtangga, saya berharap bisa memberi keluarga saya, apa yang tidak saya dapatkan dari orangtua saya.

tidak apa-apa kan cerita hal yang pribadi begini? maaf ya kalau lebay. toh anda tidak kenal saya dan tidak akan peduli juga. anda hanya akan membaca judulnya lalu membacanya tapi tidak sampai habis.

Kepada kedua orangtua saya, kalian gak mungkin baca ini, kan? kita jarang ngobrol dari hati ke hati loh. bahkan rasanya mustahil kita bisa begitu. maaf ya anak kalian ini lancang dan durhaka.

Kepada Allah SWT, Tuhanku Yang Maha Esa, maaf ya saya gak tau caranya mensyen atau tag. Tapi saya yakin Allah pasti baca ini. Tolong perbaiki keluarga ini yah. meskipun dosa saya ini banyak banget. 

Sabtu, 25 Juli 2020

D E N T I N G !


jiwaku adalah ombak yang siap surut dan pasang, sedangkan kau adalah peselancar yang belum mahir caranya berenang. kau nikmati setiap cipratan dan siraman. aku menyeretmu lebih jauh ke dalam diriku. mengagumi setiap buih yang datang dan meletup bersamaku. sampai terkadang kau lupa, sudah sejauh mana aku membawamu ke arah gelombang yang tidak lagi tenang. kau kian tenggelam dalam samudera yang belum bebas kau arungi. mengurungmu dalam gelap yang paling enggan kau selami.

kita tidak pernah berjalan bersisian. pun tak pernah terniat beriringan. seringnya, kita hanya kebetulan bersebrangan. saling melempar sapa di persimpangan. menyambut getaran kasat mata, memaknai sapa dengan rasa, bahwa kita pernah saling beradu pandang tanpa kata.
yang tidak kusengaja adalah menyentuh kesepianmu lalu tersentuh perasaanmu. kau yang kian terbawa oleh arus tingkahku, sedang aku terlalu beku menyadari wujudmu.

tanpa sadar kita sering saling melukai. ingin sekali kugedor ego sendiri. merangkai maaf yang kusesali dari sisa-sisa pergolakan hati. ingin sekali kuyakini bahwa desir-desir yang selama ini mengganggu, telah sebenar-benarnya kupahami.
namun yang kutemui hanya air yang merabas di ujung matamu. ada salah yang mengalah. ada duga yang curiga. ada sesak yang mengisak. detik berdetak, waktu beranjak. yang terakhir kali terbesit di hati dan kuyakini, aku harus menjauh dan pergi.

berbahagialah kamu, berdamailah aku.

Rabu, 22 Juli 2020

Manusia, Pengalihan dan Masalah

Sepertinya manusia memang tumbuh bersama sebuah pengalihan. kita seringkali membuat pengalihan-pengalihan untuk menghindar, pergi dan menolak. rasa sakit adalah yang paling sering kita tolak.
saat kanak-kanak kadang kita bermain sampai lupa banyak hal termasuk sayatan, lecet, atau goresan dan luka kecil di kulit bagian luar. kita lebih asyik bermain bukan dengan niatan melupakan rasa sakit, tapi rasa sakit itu memang tidak terasa besar saat pikiran lebih banyak bermain.
pikiran kanak-kanak membawa kita pada kesenangan, rasa gembira, dan terhibur.
kegembiraan, setidaknya menjadi penawar bagi anak-anak. sebabnya, anak-anak jarang berlarut-larut dalak rasa sakit.

semakin menua, entah karena lingkungan atau proses pendewasaan, kita perlahan kehilangan kegembiraan-kegembiraan itu. imajinasi berkurang dan jiwa makin tertekan seiring banyaknya tuntutan. Sebabnya kita tentu pernah merasa ingin kembali menjadi anak-anak. sebabnya, kita kadang menyetujui selogan "tak ingin tumbuh dewasa". karena menjadi anak kecil kadang lebih menyenangkan dan bebas.

Setelah dewasa, pengalihan semacam itu biasanya masih ada. Hanya saja bentuknya berbeda. Intinya, kita seringkali mencari kesenangan untuk melupakan kepahitan hidup. Masalah ada dimana-mana, menekan urat syaraf dan menegangkan otot-otot tubuh. Tidak jarang, ada yang sampai pusing tiba-tiba, jantung berdebar, badan gemetar, perut mual dan sebagainya.
sebab itu, saat masalah datang, pengalihan seperti menonton tv, YouTube, mengunggah kata-kata di media sosial, menonton komedi tunggal, apapun bentuknya, kita senantiasa mengalihkan pikiran buruk/negatif pada hal-hal jenaka dan menyenangkan.

Celakanya, masalah akan tetap ada meski sebaik apapun cara kita menolak dan mengalihkannya, selucu apapun komedi dan lawakan yang kita tertawaan, semeriah apapun musik yang kita nyala dan dengarkan. Di waktu-waktu tertentu, di sela-sela malam saat mata hampir terpejam, kita akan tetap tertekan oleh kesepian, oleh rencana-rencana yang gagal dan berantakan, hubungan yang tidak sehat dan tak karuan, hidup yang bermasalah dan kurangnya kebebasan. Hingga pada akhirnya kita semakin menyerah, terpuruk, dan mengutuk diri sendiri.

Bercerita kepada orang lain adalah hal yang mahal bagi kita. Bukan karena materi atau enggan membuka diri. Hanya saja, menemukan teman yang jadi pendengar terbaik adalah barang langka, meski sebenarnya ada Tuhan yang setia dengan ke-Maha Mendengar-nya.

Tidak ada solusi yang benar-benar tepat. Mengeluh bukan jalan terbaik. Dian pun bukan pilihan tepat. Karena jiwa yang tersiksa oleh pikiran sendiri adalah bom waktu. Siap meledak dan merugikan diri sendiri serta orang lain kapan saja, tanpa diduga-duga.
berdoa memang cukup menenangkan, pengalihan pun cukup menahan kerusakan, tapi tanpa pengobatan kita akan semakin memperparah keadaan.

Menulis adalah salah satu obatnya, dimana saya sedang dan senang melakukannya. menulis adalah sarana yang mudah untuk menuangkan keresahan dan mencairkan tekanan-tekanan itu. Karena saya juga manusia dan masalah adalah makanan sehari-hari bagi setiap individu, maka inilah pengalihan yang bisa saya lakukan.

Sejauh apapun kita menghindar, masalah akan tetap mengejar, maka hadapi jangan ditakuti.

Selasa, 21 Juli 2020

Apa hal yang begitu istimewa dalam hidupmu?


apa hal yang begitu istimewa dalam hidupmu?

hmm, apa ya?
meskipun tidak gampang mengapresiasi hal-hal baik di sekitar saya, saya perlu dan yakin bahwa banyak hal yang kemudian bisa saya katakan itu istimewa dalam hidup.
bagaimana tidak?
saya di kelilingi orang baik. bapak, umi, dan adik saya adalah contoh paling dekat, meskipun bukan orang terdekat.
ya, saya memang jarang menunjukkan kedekatan dengan mereka.

ada pula teman-teman, sahabat, guru, dan orang tertentu yang saya istimewakan. mereka semua punya peran yang signifikan dalam membangun kehidupan saya. bahkan jika itu hanya sebatas kenalan. saya sangat menghargai itu. ada lagi koleksi buku di kamar saya. juga jordan, honda beat hitam yang kreditnya belum lunas, tapi tiap tiga bulan minta jajan. bagi saya itu istimewa.

lalu apa?
saya sungguh banyak salah, cela dan kurangnya. yang paling rentan adalah urusan bersosialisasi. saya tidak mudah membangun hubungan dengan orang lain. saya juga benci keramaian. ada perasaan tidak nyaman saat bertemu orang banyak.
anehnya, saya ingin sekali diperhatikan dan diandalkan dalam banyak hal. meskipun seringkali malah mengecewakan. banyak sekali pikiran irasional yang membuat saya memandang rendah diri sendiri. kemudian, terbentuklah pribadi yang kurang percaya diri. akhirnya, kecemasan demi kecemasan selalu bermunculan.

mungkin ada satu hal yang seharusnya sejak lama saya sadari. yakni memandang bahwa diri saya ini juga termasuk istimewa dan perlu diistimewakan. karena dengan begitu saya bisa lebih mencintai diri sendiri. saya bisa lebih peduli pada diri saya. sehingga saya punya banyak kesempatan untuk mengistimewakan diri saya.

memang itu semua belum tentu mengurangi kecemasan yang sering mengganggu. tapi setidaknya saya jadi memandang diri sendiri sedikit lebih positif
terimakasih diriku. sudah berjuang dengan segala kepahitan hidupmu. kita kuat, dan kita istimewa.

Senin, 20 Juli 2020

LAPAR!!!


dengar. aku sedang lapar. benar-benar lapar meski lambung sudah kupadatkan dengan macam-macam kudapan. pagi, siang, sore dan malam, perutku dipenuhi gumpalan makan. tapi masih saja ia kelaparan.

dengar. aku sedang lapar. sangat-sangat lapar. ternyata kepalaku juga butuh makan. aku harus memberinya makan. dengan lamunan, dengan pertanyaan, dengan halu dan angan, bahkan dengan kebohongan dan omong kosong yang menyenangkan.

dengar. aku sedang lapar. sungguh-sungguh lapar. ternyata rongga dadaku juga butuh makan. aku harus memenuhi sebuah kebutuhan tambahan. sesuatu yang tidak peduli bagaimana sebuah keadaan dapat memperkeruh jalannya situasi, ia akan selalu dipenuhi ketidaknyamanan. aku harus memenuhi kebutuhan ke sekian dari hierarki yang benar-benar manusia butuhkan.

dengar. aku sedang lapar. sumpah demi apapun dan dimanapun aku sungguh butuh asupan. aku lapar pada pandangan yang melihatku dengan sebenar-benarnya aku. pada suara yang mengingat bahwa seseorang sepertiku pun bisa diterima. pada perasaan yang mengusir khawatir dan menyambut ketenangan. pada perhatian yang sederhana namun menyamankan.

aku sedang kelaparan. pada acuh yang mulai abai. pada dekat yang mulai jauh. pada hadir yang mulai hilang. pada kuat yang kian semakin melemahkan. pada tinggal yang kini sudah meninggalkan.

bisa kau beri aku makan?

Minggu, 19 Juli 2020

kita adalah cahaya bulan yang tergantikan oleh senter dan lampu-lampu

sejujurnya, meskipun menyendiri adalah cara paling ampuh untuk menguras emosi, terkadang kita memang butuh sendirian. sendirian tidak selalu berarti kita sedang kesepian. karena selalu ada perbedaan antara sendiri dan menyendiri, antara kesepian dan menyepi.
kita butuh waktu untuk sekedar menyalakan sebatang rokok, menyeduh semangkuk mie instan, atau menghidangkan segelas kopi saset.
kita butuh menikmati perayaan dalam kesendirian. menyiram benih-benih emosi yang kian subur hanya saat kita menyendiri. suara-suara akan selalu memanggil, walau bukan untuk memiliki. maka menyendiri adalah kesempatan paling tidak manusiawi untuk menjadi diri sendiri.
kita dipaksa dan terpaksa memandang ke depan sambil melihat ke belakang. kita dituntut mengambil pelajaran dari setiap pengajaran. kita diuji dengan hingar bingardan euforia. hanya untuk menyadari dan belajar bahwa pada akhirnya kita tetap sendirian.
suatu saat, di kala kita benar-benar sudah tak dibutuhkan, suara kita tak lagi didengarkan, tulisan kita tak lagi dibaca, dan nama yang pernah disebut-sebut mulai luntur tergerus jaman, kesendirian akan selalu menjadi teman yang membebaskan.

kita adalah cahaya bulan yang tergantikan oleh senter dan lampu-lampu. semakin redup karena manusia sudah merasa mampu.

Sabtu, 18 Juli 2020

luka dan melukai, mencari dan menemukan, pergi dan kepergian


kita hanya terlalu sering memaksakan apa yang mungkin sebenarnya tidak pernah ditakdirkan. entah sebagai bentuk kepemilikan atau lebih berharga dari sekedar ikatan. kita terlalu sering menciptakan kehaluan-kehaluan pada diam yang tertekan. entah sebagai bentuk pertahanan atau memang sebegitu sulitnya merelakan. kita terlalu sering meratapi kepergian, bahkan pada yang datang untuk sebatas berkenalan. entah sebagai wujud kekhawatiran atau memang kita terlalu takut kehilangan.

kita perlu mengobati degup demi degup yang mulai tidak beraturan. bertahan lewat segenap laku kebohongan, lewat senyuman kepalsuan, lewat candu yang berlebihan, lewat doa-doa dan permintaan.
kita perlu menarik ulang luka demi luka dari sisa pembantaian. dari perih dan pedih yang ke sekian belum juga disembuhkan, dari isak dan sedu yang menyebalkan, dari pelukan yang hadir sebatas khayalan.

kita perlu berpuasa demi menahan yang perlu tetap disimpan. ruam yang menolak dipertontonkan demi menjaga rahasia yang menyesakkan, lebam yang menyandera aliran-aliran di pembuluh yang menyakitkan, memar yang timbul tenggelam di sisa perbincangan, dan semua yang berkecamuk begitu tajam, menusuk dan menyayat walau hanya dalam bentuk kenangan.

aku benar-benar lelah mengejar seseorang seperti dirimu. aku ingin sekali beristirahat lalu melambaikan tangan tanda menyerah dengan keadaan. namun kau semakin jauh meninggalkan dan aku semakin sulit menemukan. mungkin kita memang dihadapkan pada pertemuan, hanya karena kelak diwajibkan membangun perpisahan. dan bodoh atau bukan, aku masih saja mengejar, walau arah sudah semakin berlawanan.

Jumat, 17 Juli 2020

siapa suruh menaruh harap?

semalam, untuk kesekian kali saya kembali patah hati. lewat obrolan panjang lebar yang berujung perpisahan sepihak. saya ingin berjuang lebih dari ini. namun yang dijuangkan memilih berhenti sebab tak enak hati. alasannya banyak, dan saya benar-benar perlu mengerti. meski berat hati, saya cukup senang mengatakan bahwa saya masih baik-baik saja. setidaknya untuk saat ini.

itu bukan penolakan yang pertama buat saya. anehnya, saya masih belum terbiasa. siapa juga yang rela terbiasa menerima penolakan, seolah itu hal biasa. atau memang untuk orang seperti saya, bersikap biasa tak pernah mudah.
adalah harapan yang membuat saya merasa perlu berjuang. sekian hari, sekian bulan ia disiram lewat perhatian, yang saya anggap lampu hijau untuk lebih dekat dengannya. nyatanya, harapan memang sekedar harapan. ia tidak dipupuk oleh si pemberi. ia hanya tumbuh sendiri. sebabnya, terlalu berharap pada seseorang hanya menumbuhkan bibit-bibit kecewa.
pada akhirnya, bukan si dia yang tak peka, hanya saja saya terlalu tinggi berkhayal.
bukan dia tak pernah menganggap, siapa suruh menaruh harap.

mencintai saja tidak akan cukup tanpa mau saling memahami. dan untuk saat ini, yang sama-sama kita pahami adalah saling melepas pergi.
saya tidak terlalu percaya diri untuk menjadi yang terbaik untuk dirinya kelak. apapun akhirnya nanti, semoga saya masih baik-baik saja.

untuk seseorang yang tidak mungkin membaca ini, terimakasih.


Rabu, 15 Juli 2020

istirahat

kadang di sudut-sudut paling sunyi dan gelap. ada sedih yang menggantung dalam bentuk senyap. ada kata yang semakin banyak menguap. ada lelah yang kemudian jadi genap. ada perih yang terperangkap. kita berhak menjerit dan butuh untuk teriak meski tak pernah siap. yang terjangkau hanya tangis sebelum lelap.

bisakah kita menyendiri tanpa merasa sepi?
bisakah kita menyepi tanpa merasa sendiri?
tanpa merasa tertekan oleh kekhawatiran yang kian menyudutkan. tanpa ketakutan yang sering berganti. tanpa perasaan ingin mati.
diriku, aku tahu kamu lelah. jangan terlalu banyak dipikirkan. istirahat dan menangis lagi.

Permulaan Bulan Juli

apakah kamu pernah merasakan kekosongan? seperti halnya tempurung kepala tanpa punya isi di sana. aku sering berada pada situasi itu. saat ini, kemarin, esok, mungkin seterusnya dan selamanya. kesepian adalah makanan paling bergizi bagi hati yang kosong. ia akan terus bersarang dan menyerang tanpa tahu caranya berhenti dan hilang. kesepian adalah ramuan paling beracun bagi kesendirian yang enggan diisi. kesepian adalah cara paling tidak masuk akal untuk membunuh diri sendiri.
kau tahu caranya menyiksa diri? cobalah sesekali menyendiri. diam. dan pikirkan apa yang kau lalui dalam dua puluh empat jam hari ini. adakah sesuatu yang bermakna dari hidupmu? adakah yang kau hargai namun tiada yang peduli? adakah waktu yang begitu istimewa dan mengistimewakanmu?
kita adalah pertanyaan-pertanyaan yang enggan untuk dijawab. bukan karena bodoh atau salah. kita hanya tak ingin menjelaskan terlalu banyak.