Minggu, 04 Oktober 2020

Diorama Hujan

kepada kesepian yang sering lupa dikondisikan.

sisi-sisi jalan sudah dibanjiri genangan. celah-celah kesempatan untuk kembali mengingat yang seharusnya terlupakan, dibiarkan begitu saja berserakan.

lengkap sudah rutinitas Sabtu malam tanpa rembulan sebagai teman berbagi beban.


memang benar kata orang,

sisa-sisa dari tetes hujan seringkali mengoyak banyak hati yang merindukan pertemuan. mereka yang lelah dengan pertengkaran namun meragukan perpisahan. juga mereka yang terlampau berharap banyak namun takut menerima kepastian. 


tapi,

mungkin sore tadi, sepasang insan berjalan bersisian beratapkan satu payung bersamaan, bertolak pandang malu-malu di bawah hujan.

mungkin saat hujan sedang deras-derasnya, sepasang tangan memeluk erat enggan melepaskan, berduaan berkendara melawan siraman, kebasahan.


mungkin sore tadi, saat hujan mulai jatuh perlahan-lahan, di sudut-sudut kamar, di tepian jendela, lewat sepucuk surat, secarik pesan, ingatan dan kenangan, hujan yang lain ikut terjun berguguran.

Selasa, 04 Agustus 2020

UJIAN


hai, mari merenung.

kadang kalo pikiran lagi bener, saya suka kepikiran. mungkin selama ini Tuhan menjadikan kehadiran seseorang di hidup saya sebagai ujian buat saya. orang-orang seperti bapak, ibu, adik, kakak, kerabat, tetangga, teman, rekan kerja dan lain-lain. orang yang menyebalkan yang karena kehadirannya saya sempat berpikir mengapa harus ada dia di hidup saya. bukankah lebih baik kalau orang seperti itu tidak ada.

ah, memang jahat sekali pikiran ini. dia loh jadi seperti itu pasti bukan karena keinginannya. itu peran yang memang dihadiahkan Tuhan untuk dia lakoni.
orang seperti itu mungkin sebenarnya diciptakan bukan hanya untuk menguji saya. tapi karena orang sebelum saya gak kuat, jadi dialihkan ke saya. haha. seandainya saya ikut-ikutan tidak mengakui keberadaannya, kasihan sekali, kan? siapa yang akan menerima dia?

bukankah sebenarnya yang terjadi dalam ujian ini cukup sederhana?
kalau dia mengganggu atau merusak hidup saya dan saya bersabar, maka dia berdosa sedangkan saya berpahala. tapi jika saya tidak sabar dan membalas perlakuannya, justru saya berdosa.

kita berdoa karena tahu bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. mungkin yang sebenarnya perlu direvisi adalah doa-doa kita selama ini. mengapa kita lebih sering berdoa meminta dikurangi jatah dan level ujiannya? apakah kita selemah itu? bukankah sebaiknya meminta lebih dikuatkan? itu tandanya kita lebih siap meski level ujiannya bertambah.

bagaimana pun juga, mereka yang terkadang tidak diharapkan kehadirannya, adalah sama-sama manusia. mengapa harus seolah kita yang menghakiminya?

belajar dari belajar

hai, mari bercerita.

seperti kepala saya baru saja dipenuhi pertanyaan. menyebalkan sekali. bikin tambah pusing saja. mulai dari mana ya?

Ah, ya.
seberapa penting ijazah buat anda? apa yang kamu cari dari belajar? apa yang kita harapkan dari sebuah sistem pendidikan?

Saya heran dengan beberapa orang, kok kelihatannya menyepelekan sekali dengan pendidikan dan belajar. UN sudah ditiadakan, kelulusan ditentukan oleh sekolah, sistem pembelajaran semakin diperbarui, tapi kok saya makin tidak tahu arah ya.
pernah saya tanya pada beberapa siswa, "kalau kamu lulus tapi gak dapet ijazah gimana?" kebanyakan dari mereka menjawab ijazah itu penting. buat apa sekolah kalau tidak punya ijazah.
benar juga sih, tiga tahun bukan waktu dan biaya yang sedikit. buku lah, seragam lam, uang ini lah itu lah. hanya untuk selembar kertas yang (menurut saya) tidak menunjukkan kemampuan seseorang.

kadang ada juga siswa yang curhat, mereka mau kuliah jurusan A tapi orangtuanya bilang "jangan masuk jurusan A, karena prospek kerjanya kurang bagus". bahkan ada juga yang bingung mau pilih jurusan apa.
Maksud saya, mengapa semua harus selalu berorientasi pada pekerjaan dan uang?

saya akui bekerja adalah cara menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan. bagaimanapun juga setiap orang perlu uang. mulai dari jajan seblak buat anak atau beli skincare buat istri. tapi jika melulu soal gaji dan penghasilan, apa anda pernah tau upah dan pendapatan para pegiat seni dan literasi?
mereka loh belum tentu punya ijazah, tidak punya gaji tetap tiap bulan, atau tunjangan hari raya. tapi mereka tetap hidup dengan apa yang mereka sukai.

bisa belajar tanpa sekolah, itu hebat. tandanya kita diakui tanpa perlu sebuah lisensi. yang sering terjadi adalah sekolah tanpa belajar. punya ijazah, tapi keterampilan dan kompetensi kita kalah.
kiranya, mungkin itu lah yang membuat orang sekarang kurang menghargai ilmu dan belajar, menghargai guru dan pengajar.

saya jadi bertanya-tanya, apa bedanya pengajar dengan buruh?

ah, lagi-lagi, tau apa sih saya ini.

Minggu, 02 Agustus 2020

membisukan dibisukan


soal ikut-mengikuti di Instagram,
pasti kita pernah menemukan orang yang sudah difollow tapi kok gak mem-follow balik. bahkan sampai dipaksa pun dia enggan. saya termasuk tipe ini. karena menurut saya, itu bukan kewajiban. artinya saya tidak menemukan manfaat dari unggahan anda.
toh saya tidak meminta, apalagi memaksa. setelah tulisan ini pun, kalau ada yang mau unfollow, monggo. itu berarti anda merasa tidak menemukan manfaat dari unggahan saya.

di tempat lain, kita pasti punya beberapa orang di kontak whatsapp yang statusnya kita bisukan. lebih dari itu bisa jadi diblokir. pun sebaliknya, bukan mustahil orang lain melakukan hal yang sama pada status kita. lebih-lebih kita sendiri yang menyembunyikannya dari mereka.
alasannya sederhana, kita tidak mau dia atau mereka melihatnya.

mengapa?

mari sepakati satu hal.
orang-orang memasang status di WhatsApp, mengunggah foto di Instagram, menulis caption di dalamnya, tidak lain karena adanya suatu kepentingan. entah berjualan, pamer, hiburan, atau beberapa hal seperti mendeskripsikan perasaan.

akui saja.
kadang saat butuh seseorang untuk bercerita, kita malah lebih sering mengunggahnya di media. bukan karena benar-benar tidak ada yang bersedia. hanya saja mereka yang merasa mampu menjadi pendengar tidak sependiam dinding lini masa.
siapa yang butuh pendengar, malah siapa yang lebih banyak mendengar. siapa yang ingin bercerita, malah siapa yang lebih banyak bicara.

maka jangan heran soal membisukan dan dibisukan, dilihat dan disembunyikan, disimpan atau dibuang. sederhananya, ada yang layak dan tidak untuk tahu apa dan mengapa.

kadang dilihat atau tidak pun sama saja, kan?
yang peduli akan ada tanpa diminta. sementara yang berpikir bahwa ia peduli hanya akan diam saja.
pada akhirnya, kita menemukan bahwa pilihan itu hanya dua. bercerita di sosial media, atau diam saja.

Rabu, 29 Juli 2020

Cara menjadi orangtua yang baik dan benar



judulnya click bait sekali yah?
sejujurnya ini hanya cerita. ya, cerita. jadi pertanyaan sendiri bagi saya, bagaimana  menjadi orang tua yang baik dan benar?
ada beberapa alasan mengapa pertanyaan itu muncul. pertama, saya belum berkeluarga. saya belum punya anak. jadi belum dan ingin tau bagaimana. agar kelak saat saya punya anak, saya bisa menerapkannya. kedua, sederhana sekali. itu semua tidak pernah saya temukan di kedua orang tua saya.
(gak apa-apa yah, toh mereka gak akan membaca cerita ini).

sejak kecil, keluarga ini bukan keluarga yang berada. "miskin", kalau dulu sebut saja begitu. kalau sekarang saya kurang sreg disebut begitu. "cukup", barangkali lebih enak disebut begitu. bapak cuma kuli di pasar. dulu manggul, sekarang naik sedikit, jadi asisten tukang sayur. umi dulu pekerja pabrik pakaian. sekarang jadi tukang jahit di rumah. itu pun kalau ada tetangga atau kerabat yang perlu. hebat yah, bisa menghidupi dua anak. bahkan anak pertamanya bisa sampai sarjana. si anak pasti bangga dan sayang sekali dengan keluarganya.

sayangnya si anak pertama ini tidak pandai bersyukur. dia masih sering mengeluh. termasuk lewat cerita ini.
dia menomorduakan keluarganya. yang nomor satu siapa? dirinya sendiri.
padahal si anak pertama termasuk tipe yang perasa dan mudah tersentuh hatinya.
apa ini soal harta? materi yang selama 25 tahun ini tidak dimilikinya?
mungkin iya mungkin tidak.
tapi ada satu hal sederhana, yang ia jauh lebih iri pada keluarga lain ketimbang harta. sesuatu yang tidak ia rasakan di keluarganya. kehangatan.
bagaiman mungkin kita pulang ke rumah, jika tidak pernah merasa berada di rumah? bagaimana mungkin ada kenyamanan, jika yang didengar dan dilihat hanya pertengkaran-pertengkaran.

saat usianya masih balita, si anak pertama (waktu itu belum tau apa-apa), sempat diperebutkan oleh bapak-umi-nya yang hampir pisah. hingga singkat cerita, uminya mengalah dan kembali, dengan syarat sebuah rumah. gak enak loh tinggal bareng mertua. suer.

belum selesai sampai disitu, pertengkaran masih sering terjadi lantaran masalah ekonomi. si bapak bukan orang yang gigih dan visioner (kecuali hanya untuk makan sehari-hari). si umi bukan orang yang super sabar (meskipun ia mendaulat dirinya sendiri sudah sabar banget). persoalan ini masih sering terjadi sampai barusan sebelum cerita ini ditulis.

begini. anak kecil hanya mengatakan apa yang ia dengar, dan melakukan apa yang dia lihat. orang tua adalah pengajar dan pendidik pertama di rumah. sengaja atau tidak, diniatkan atau tidak, jangan salahkan jika itu membekas sampai ia dewasa. dan akhirnya benar-benar terjadi. ia benci bapak-umi-nya.
ia benci pada drama-drama kehidupan nyata yang terjadi saat dirinya hendak terlelap.

uminya selalu menekankan "jangan jadi seperti bapak, kamu jadi laki-laki harus bisa diandalkan". sementara di lain hari uminya juga mengatakan "biarpun bapakmu begitu, dia bapakmu. kamu gak boleh melawan dan durhaka".
dua hal yang begitu kontras, bukan?

ada hal lain yang tidak diajarkan orangtua ini pada si anak pertama. tolong dan maaf. dua kata yang sederhana tapi penting. sehabis marah atau setelah pertengkaran terjadi, kadang juga saat si anak rewel dan berakhir dimarahi, orangtuanya tidak pernah meminta maaf, sedikitpun tidak. kecuali setahun sekali dalam bentuk "minal aidin".

saya tidak bermaksud menyalahkan bapak dan umi. mungkin mereka begitu pun karena orangtuanya. hanya saja, kelak saat saya berumahtangga, saya berharap bisa memberi keluarga saya, apa yang tidak saya dapatkan dari orangtua saya.

tidak apa-apa kan cerita hal yang pribadi begini? maaf ya kalau lebay. toh anda tidak kenal saya dan tidak akan peduli juga. anda hanya akan membaca judulnya lalu membacanya tapi tidak sampai habis.

Kepada kedua orangtua saya, kalian gak mungkin baca ini, kan? kita jarang ngobrol dari hati ke hati loh. bahkan rasanya mustahil kita bisa begitu. maaf ya anak kalian ini lancang dan durhaka.

Kepada Allah SWT, Tuhanku Yang Maha Esa, maaf ya saya gak tau caranya mensyen atau tag. Tapi saya yakin Allah pasti baca ini. Tolong perbaiki keluarga ini yah. meskipun dosa saya ini banyak banget. 

Sabtu, 25 Juli 2020

D E N T I N G !


jiwaku adalah ombak yang siap surut dan pasang, sedangkan kau adalah peselancar yang belum mahir caranya berenang. kau nikmati setiap cipratan dan siraman. aku menyeretmu lebih jauh ke dalam diriku. mengagumi setiap buih yang datang dan meletup bersamaku. sampai terkadang kau lupa, sudah sejauh mana aku membawamu ke arah gelombang yang tidak lagi tenang. kau kian tenggelam dalam samudera yang belum bebas kau arungi. mengurungmu dalam gelap yang paling enggan kau selami.

kita tidak pernah berjalan bersisian. pun tak pernah terniat beriringan. seringnya, kita hanya kebetulan bersebrangan. saling melempar sapa di persimpangan. menyambut getaran kasat mata, memaknai sapa dengan rasa, bahwa kita pernah saling beradu pandang tanpa kata.
yang tidak kusengaja adalah menyentuh kesepianmu lalu tersentuh perasaanmu. kau yang kian terbawa oleh arus tingkahku, sedang aku terlalu beku menyadari wujudmu.

tanpa sadar kita sering saling melukai. ingin sekali kugedor ego sendiri. merangkai maaf yang kusesali dari sisa-sisa pergolakan hati. ingin sekali kuyakini bahwa desir-desir yang selama ini mengganggu, telah sebenar-benarnya kupahami.
namun yang kutemui hanya air yang merabas di ujung matamu. ada salah yang mengalah. ada duga yang curiga. ada sesak yang mengisak. detik berdetak, waktu beranjak. yang terakhir kali terbesit di hati dan kuyakini, aku harus menjauh dan pergi.

berbahagialah kamu, berdamailah aku.

Rabu, 22 Juli 2020

Manusia, Pengalihan dan Masalah

Sepertinya manusia memang tumbuh bersama sebuah pengalihan. kita seringkali membuat pengalihan-pengalihan untuk menghindar, pergi dan menolak. rasa sakit adalah yang paling sering kita tolak.
saat kanak-kanak kadang kita bermain sampai lupa banyak hal termasuk sayatan, lecet, atau goresan dan luka kecil di kulit bagian luar. kita lebih asyik bermain bukan dengan niatan melupakan rasa sakit, tapi rasa sakit itu memang tidak terasa besar saat pikiran lebih banyak bermain.
pikiran kanak-kanak membawa kita pada kesenangan, rasa gembira, dan terhibur.
kegembiraan, setidaknya menjadi penawar bagi anak-anak. sebabnya, anak-anak jarang berlarut-larut dalak rasa sakit.

semakin menua, entah karena lingkungan atau proses pendewasaan, kita perlahan kehilangan kegembiraan-kegembiraan itu. imajinasi berkurang dan jiwa makin tertekan seiring banyaknya tuntutan. Sebabnya kita tentu pernah merasa ingin kembali menjadi anak-anak. sebabnya, kita kadang menyetujui selogan "tak ingin tumbuh dewasa". karena menjadi anak kecil kadang lebih menyenangkan dan bebas.

Setelah dewasa, pengalihan semacam itu biasanya masih ada. Hanya saja bentuknya berbeda. Intinya, kita seringkali mencari kesenangan untuk melupakan kepahitan hidup. Masalah ada dimana-mana, menekan urat syaraf dan menegangkan otot-otot tubuh. Tidak jarang, ada yang sampai pusing tiba-tiba, jantung berdebar, badan gemetar, perut mual dan sebagainya.
sebab itu, saat masalah datang, pengalihan seperti menonton tv, YouTube, mengunggah kata-kata di media sosial, menonton komedi tunggal, apapun bentuknya, kita senantiasa mengalihkan pikiran buruk/negatif pada hal-hal jenaka dan menyenangkan.

Celakanya, masalah akan tetap ada meski sebaik apapun cara kita menolak dan mengalihkannya, selucu apapun komedi dan lawakan yang kita tertawaan, semeriah apapun musik yang kita nyala dan dengarkan. Di waktu-waktu tertentu, di sela-sela malam saat mata hampir terpejam, kita akan tetap tertekan oleh kesepian, oleh rencana-rencana yang gagal dan berantakan, hubungan yang tidak sehat dan tak karuan, hidup yang bermasalah dan kurangnya kebebasan. Hingga pada akhirnya kita semakin menyerah, terpuruk, dan mengutuk diri sendiri.

Bercerita kepada orang lain adalah hal yang mahal bagi kita. Bukan karena materi atau enggan membuka diri. Hanya saja, menemukan teman yang jadi pendengar terbaik adalah barang langka, meski sebenarnya ada Tuhan yang setia dengan ke-Maha Mendengar-nya.

Tidak ada solusi yang benar-benar tepat. Mengeluh bukan jalan terbaik. Dian pun bukan pilihan tepat. Karena jiwa yang tersiksa oleh pikiran sendiri adalah bom waktu. Siap meledak dan merugikan diri sendiri serta orang lain kapan saja, tanpa diduga-duga.
berdoa memang cukup menenangkan, pengalihan pun cukup menahan kerusakan, tapi tanpa pengobatan kita akan semakin memperparah keadaan.

Menulis adalah salah satu obatnya, dimana saya sedang dan senang melakukannya. menulis adalah sarana yang mudah untuk menuangkan keresahan dan mencairkan tekanan-tekanan itu. Karena saya juga manusia dan masalah adalah makanan sehari-hari bagi setiap individu, maka inilah pengalihan yang bisa saya lakukan.

Sejauh apapun kita menghindar, masalah akan tetap mengejar, maka hadapi jangan ditakuti.