Sore itu, di hari pertama bulan Desember.
Kota surabaya terlihat indah dengan pesonanya. Hilir mudik kendaraan, orang-orang
berjalan kesana-sini, gerimis kecil menari-nari mengguyur makhluk di atas
tanah. Di pojok jalan depan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, seorang
tukang pentol menjarahkan dagangannya. Tanpa lelah ia menyusuri jalan menuju
wonocolo.
Dari jauh seorang Ibu menelepon
anaknya yang membawa baju dari laundry itu. Dengan nada membentak, cukup
mengagetkan ketika si anak jujur telah menghamburkan uang untuk hal sepele.
Kehidupan pemuda ini sedikit sulit. Sebagai seorang perantau ia harus berhemat.
Walaupun hidup dan pendidikannya selama empat tahun di Surabaya sudah
ditanggung pemerintah, ia tidak bisa bersantai-santai dan menghamburkan
uangnya. Tidak lain karena ayah dan ibunya bukan orang berada, yang setiap saat
si anak membutuhkan uang, bisa ditransfer begitu saja.
“Mentang-mentang lagi banyak
uang, ko hambur-hambur! Ibu gak tau bisa ngirimin lagi atau nggak. Jadi
hemat-hemat, Fan!”
“Iya Bu! Cuma sekali ini Arfan
nyuci di laundry, karena emang gak sempet. Lagi sibuk-sibuknya ngurusin
osmajur. Gak ada waktu buat nyuci sendiri. Lagian kan gak banyak. Ibu tenang-tenang
ajah, insyaallah Arfan bisa ngaturnya.”
Sore itu sangat melelahkan bagi
Arfan, mahasiswa semester tiga di UIN Sunan Ampel. Setelah sebulan bersama
teman-temannya di HMJ BKI[1],
merencanakan kegiatan osmajur beserta pernak-perniknya. Ditambah tugas kuliah
yang kian menumpuk dan kegiatan di asrama yang harus dijalani setiap harinya.
Sebagai mahasiswa penerima beasiswa, ia sadar tidak mungkin berlama-lama diam
di Surabaya. Yang terpenting adalah bagaimana menyudahi perkuliahan di semester
ketujuh. Jika ia tidak bisa lulus di semester tujuh atau delapan, beasiswa itu
tidak akan datang lagi. Dan semua impiannya akan sirna. Ia tidak punya waktu
untuk bersenang-senang, bahkan untuk mencari kepingan hatinya yang hilang.
Sejak lulus dari Madrasah di Bogor, ia memutuskan untuk pergi ke Surabaya dan
mengambil beasiswanya. Meninggalkan semua kisah cinta masa SMA. Pacaran sudah
sedemikian pelik baginya. Terpaksa ia mengakhiri hubungannya dengan seseorang.
Dengan status dirinya sebagai lajang, untuk remaja jaman sekarang itu sulit
sekali. Banyak godaan yang mengahampiri. Arfan bisa dibilang cukup tampan,
karna itu banyak teman sebaya dan adik kelas yang meliriknya, namun tak pernah
digubris. Ia malas memikirkan cinta.
Untuk satu alasan ia meninggalkan
kekasihnya, yaitu untuk sang ibu. Tak mungkin Arfan bersenang-senang dengan
cinta, sementara kesuksesan yang akan ia capai demi kebahagiaan sang ibu akan
kandas karena cintanya pada seorang kekasih. Arfan lebih mencintai ibunya
dibanding dengan wanita manapun. Kesedihan yang ia rasakan ketika rindu dengan
ibu terpancar jelas jika ia tak bisa pulang saat liburan. Pastilah ia mengingat
tatkala kecil. Saat itu usianya masih sebelas tahun, kira-kira kelas enam SD.
Selepas sholat idul fitri, Arfan pulang lebih dulu dari masjid. Ibunya sangat
terkejut. Ketika pulang, Arfan sudah menyiapkan bangku kecil dan air di bak,
serta kain lap kering. Arfan mempersilahkan ibunya untuk duduk dan mencucikan
kaki ibunya. Ibunya sangat terharu dan Arfan pun menangis di kaki ibunya,
meminta doa dengan keikhlasan. Mungkin itulah yang menghantarkan Arfan hingga
sampai sekarang. Doa seorang ibu yang menyayangi anaknya, dan anak yang
mencintai ibunya. Jika teringat masa-masa itu, Arfan selalu menangis. Yang ia
sesali, ketika berangkat ke Surabaya ia belum sempat mencuci kaki ibunya.
Mentari senja telah tenggelam.
Malam kian menarik hati seorang perindu tenggelam dalam lembutnya pulau kapuk.
Sang perindu merebahkan badannya di atas kasur.
Menebarkan angan ke seluruh penjuru alam raya. Mimipi memeluk kesunyian
hatinya yang kosong. Mengisi lubang-lubang yang terbuat karena luka di masa
lalu. Teriak dirinya dalam kegelapan, mengejar seorang gadis. Arfan tak
menyadari itu mimpi. Ia berlari sendirian memanggil “AMRINA!!”. Suara menyusup
ke telinganya. “Tuhan menciptakan malaikat hanya untuk malaikat, sedangkan aku
bukan malaikat”. Siapa Amrina? Apa maksud suara itu? Entah siapa dan bagaimana
dia. Itu hanya mimpi, siapapun Amrina, Arfan tak mengenalnya. Mungkin hanya
bunga tidur semata. Lupakan segera, pikirnya.
Malam telah berlalu. Pagi
menjemput seorang pemimpi, sebagai perahu untuk meninggalkan pulau kapuk. Solat
itu lebih baik dari tidur. Tak terasa pagi itu, semua rasa lelah menghilang.
Kesegaran meresap di tubuh penikmatnya. Cahaya dari timur menerobos celah-celah
jendela kamar mahasantri. Kesejukkan embun pagi menghiasi panorama alam
Surabaya. Puji tuhan yang menciptakan semua keindahan yang terlihat oleh mata
makhluknya. Hari ini Arfan bergegas, semua sudah ia rapihkan dalam tasnya.
Baju, celana, alat solat, dan keperluan lainnya. Pagi ini mahasiswa jurusan BKI
akan berangkat menuju perkemahan. Perangkat “menginap di alam bebas” telah
disapkan. Semua berkumpul, menjadi satu dalam warna biru bendera himpunan mahasiswa.
Sebagai anggota yang baik, bukan kebiasaannya untuk telat. Ia pandai menjaga
waktu.
Semua peserta adalah semester
satu, dan panitia adalah semester tiga ke atas. Arfan pemuda yang rajin,
terutama dalam berorganisasi. Loyalitasnya bisa diuji. Tangan kanan dan kiri
mengangkut kardus berisi bahan-bahan konsumsi. Tiga tumpukan sembako ia bawa,
sampai-sampai wajahnya tertutup. Hampir saja ia tersandung dan terjatuh. Dua
hari sebelum kegiatan Arfan sempat menyiapkan barang-barang untuk acara, ia membawa
setumpuk tenda di tangannya. Tanpa melihat ada orang di depannya. Berjalan saja
perlahan, dan menabrak seseorang. Gadis jawa dengan pipi mungil dihadapannya.
Terjatuh berdua dan tanpa sengaja gadis manis itu merajuk tak karuan.
“Aduh, mas liat-liat dong kalo
jalan. Kan jadi jatuh nih sayanya!.”dengan nada ketus ia bicara. “Maaf, Mbak.
Saya gak sengaja. Permisi saya buru-buru.” Sambil merapihkan barang bawaannya
Arfan menjauh. Sedikit menoleh menatap gadis yang ditabraknya. Dan pergi
terburu-buru. Sambil perlahan menjauh ia mendengar, “Kamu gak apa-apa Amrina?”
kata seorang teman gadis itu. Kembali mengingat nama itu dalam lamunannya, ah
sudahlah, mungkin hanya kebetulan yang tidak disengaja. Berjuta orang hidup di
bumi pertiwi, nama Amrina tidak sedikit tentunya. Bayangan itu pun masih samar.
Entah bagaimana mungkin tuhan mengizinkan atau takdir-Nya yang berbicara, saat
seluruh peserta berkumpul, seorang gadis menegur Arfan dari belakang. “ehh,
maaf permisi, Kak.” Dia Amrina, gadis yang dua hari lalu ditabraknya. “Kamu? Eh
kenapa? Maaf waktu itu saya nabrak kamu.” Melihat wajah Arfan, membuat Amrina
merasa malu karena perkataannya. “hah! Kamu? Aduh kakak, maaf yah waktu itu
saya gak tau. Pantas saja waktu itu buru-buru, ternyata lagi nyiapin
barang-barang buat osjur yah, kak? Jadi malu akunya, maaf karena kurang sopan ”
“oh, iyah gak apa-apa, gakk usah dipikirin, tadi kamu mau ngomong apa?” “eh
iyah, hampir lupa. Begini, kak. Kelompokku belum datang semua, jadi tolong
ditunggu sebentar lagi yah.” “iyah, kamu tenang saja, panitia jugaa masih
rapih-rapih. Lagi pula mana mungkin kita ninggalin peserta gitu aja. Sekarang
kamu kumpul aja di barisan, bareng temen-temen yang lain.” “oke, kakak. Oiyah
kakak namanya siapa?” “Arfan, itu nama saya.” Arfan langsung pergi membantu
panitia lainnya. Sedangkan Amrina berkumpul dengan peserta lain bersama
kebingungan di hatinya, sedikit senyuman. Mungkin ini cinta pandangan pertama,
tapi ini bukan pertama kali ia bertemu dengannya. Ah sudahlah, hidup ini masih
koma, belum sampai pada titiknya. Buat apa terlalu banyak berpikir, jalani saja
bagai air mengalir.
Pagi yang indah di bumi
perkemahan. Dua hari terlewati, pagi ini semua bersenang-senang setelah
berolahraga berjamaah. Panitia pun tak terlalu sibuk, hanya beberapa orang di
dalam arena kemah, dan beberapa orang termasuk Arfan keluar mencari jalan
sebagai rute outbond. Amrina dan temannya berdiri di depan pintu masuk
perkemahan dengan teman-temannya, sekedar berfoto. Arfan meliriknya, mungkinkah
ini cinta? Ah cepat-cepat memalingkan wajahnya. Cinta ini tak tepat waktu.
Untuk apalah cinta jika hanya mengundang luka nantinya. Arfan segera pergi, Amrina
tahu dengan tatapan tadi, Arfan melihatnya, merasa aneh dengan hal itu, Amrina
hanya tersenyum. Arfan menjauh dan mengejar teman-temannya.
Bunga bugenvil tersebar di bumi
perkemahan, di bawah kaki gunung yang indah. Warna warni alam nusantara.
Merenung mengaguminya. Indah, tak ada kata lain selain itu. Teringat gadi jawa
dengan pipi mungil itu, manis wajahnya mengganggu pikiran. Bagaimana bunga
menyampaikan rasa. Akhirnya, bunga menjadi jawaban. Awalnya Arfan hanya
mengambil setangkai bunga bugenvil merah. Lalu sepanjang jalan setangkai demi
setangkai, hingga bunga di tangannya semakin banyak. “untuk apa bunga sebanyak
ini” pikirnya. Sedikit demi sedikit bunga itu dibuangnya, hingga sampai di
perkemahan, hanya tersisa satu tangkai bunga merah. “kayaknya ada yang jatuh
cinta nih.” Kata Rafi, sahabat Arfan. “Apaan sih, segala jatuh cinta.” “kamu
gak bisa bohong, Fan. Kelihatan di matamu.” “haha, memang ada apa di mataku?
Kamu sok tahu, kayak dukun aja.” Setangkai bunga yang tersisa tak juga dibuang
oleh Arfan. “untuk siapa bunga ini” pikirnya.
Benih-benih cinta mulai tumbuh
dari setangkai bunga bugenvil. Kelopaknya memekarkan rasa di hati. “Apakah
salah cinta itu. Lalu bagaimana menjaga janji ini. Apakah dia akan menerima.
Lalu bagaimana jika aku terlena olehnya.” Bayang-bayang ketakutan menyelimuti
hati kecil Arfan, di satu sisi ia merasakan cinta, dan di sisi lain ia tak
ingin mengganggu kehidupannya yang lurus dengan memasukkan setitik cinta ke
dalamnya. Akhirnya ia memberanikan diri untuk melanjutkan cinta itu kembali.
Tanpa sadar seorang gadis memecah lamunan Arfan. “wah bunganya bagus. Buat
siapa tuh kak?” Arfan kaget dan wajahnya memerah. “Ehh, buat siapa yah? Buat
kamu aja deh.” Sambil tersenyum meninggalkan setangkai bunga untuk gadis yang
tak lain adalah Amrina. Bidadari yang hadir kembali dalam hidupnya.
Berawal dari perkemahan yang
dingin, malam yang sunyi dan setangkai bunga oranye. Arfan menemukan sesuatu
yang telah lama hilang dan telah pergi dari hidupnya. Kekasih yang akan
menyemangati hidupnya. Atau mungkin dialah Amrina yang dulu masuk dalam
mimpinya. Apakah Amrina yang pernah ditabraknya akan menjadi malaikatnya. Arfan
berusaha menguatkan hatinya. Di sela-sela kegiatan osmajur, ia mulai mendekati
Amrina. Yang tak disadarinya, ternyata Amrina pun menyimpan rasa. “kenapa dik?
Dingin yah?” dengan lembut ia menyapa. “iyah kak” “yasudah pakai jaket kakak
saja, biar kamu gak kedinginan” “lantas kakak pakai apa?” “kakak udah biasa
kok”. Cinta mulai mengikat hati keduanya.
Berjalan dengan waktu, mereka
mulai dekat. Mulai dari bertukar nomer handphone. Belajar bersama, dan
bergabung di crew mading di HMJ. Hingga akhirnya mereka menjalin cinta. Dua
insan yang menjalin asmara ini tak mengetahui takdir yang menunggu di depan.
Mungkin akan banyak rintangan mendera kehidupan mereka. Namun bagaimanapun
sulitnya itu, keyakinan akan semangat hidup yang lebih baik, tertanam kuat di
hati keduanya. Awalnya hubungan mereka tertutup, namun lama-kelamaan semakin
banyak yang tahu. Termasuk ibunya Arfan. Meski sedikit takut pendidikan anaknya
terganggu, namun Tari, Ibunya Arfan ini merasa Arfan memang perlu seseorang
untuk memberikan semangat selain dirinya. Mungkin dengan adanya Amrina, Arfan
bisa lebih tenang dan tidak terlalu banyak pikiran yang terkadang menjadi beban
pikirannya. “Mungkin sudah saatnya Arfan bisa bernafas dengan hatinya” pikir sang
ibu.
Selain dekat dengan Arfan, Amrina
juga mengenal Rafi sebagai sahabat Arfan. Sebagai kekasih yang baik, Amrina
mengerti posisi Rafi sebagai orang ketiga dalam hubungan mereka. Jika Arfan
sedang dalam masalah dan tak bisa memberi tahu siapapun, orang yang pertama
tahu adalah Rafi. Mereka sudah seperti kakak dan adik. Arfan yang sudah hampir
satu tahun tidak pulang ke Bogor, biasa menghabiskan liburannya di rumah Rafi.
Di sana ia sudah dianggap anak oleh orang tua Rafi. Rafi adalah jembatan
penghubung antara Amrina dan Arfan. Di sisi lain, Rafi juga memiliki rasa. Rasa
yang sama seperti Arfan. Cinta. Itulah yang selalu mengganggunya. Siapa lagi
kalau bukan kekasih Arfan, Amrina. Rafi memendam rasa cintanya kepada Amrina.
Ia tak ingin mengganggu dua insan cinta itu. Meskipun terkadang merasa iri,
Rafi mampu menguasai hatinya. “Mungkin ini hanya rasa sesaat. Aku tak akan maju
lebih jauh, dia milik Arfan. Saudaraku. Bukan hakku untuk memilikinya.”
Pikirnya. Kisah cinta yang aneh melingkari ketiga makhluk ini.
Hampir sebulan, ruang rindu tak
berguncang, taman hati tak pergi, dan teman cinta menemani. Kehidupan yang
sejuk itu menjadi pelindung hati yang gundah dan hidup yang kelam. Hingga suatu
ketika, pengganggu datang dalam hidup mereka. Jana, seorang musuh dalam selimut
yang menusuk dari belakang. Ia mengajak Arfan untuk membuat kerusakan. Awalnya
hanya mengajak berbisnis dengan iming-iming penghasilan besar. Pekerjaan yang
ringan dan tidak memerlukan banyak waktu. Dengan harapan menghemat uang, Arfan
masuk dalam ruang lingkup pekerjaan Jana. Tanpa disadari Arfan telah masuk
dalam lubang buaya.
Jana adalah seorang pengedar
barang haram. Ia bukan mahasiswa di kampus Arfan, bukan pula teman satu daerah.
Ia hanya kenalan lewat jejaring sosial. Arfan mengenalnya karena kebetulan yang
dibuat-buat oleh Jana. Mulanya Arfan yang tidak tahu apa-apa ditelpon oleh Jana
yang sedang mencari orang untuk bergabung dengannya. Alasannya adalah untuk
mengkonfirmasi kode dari facebook Jana, yang ia akui telah di-hack[2]
oleh orang lain. Mulai saat itu Arfan mulai mengenal Jana. Sejak awal Arfan
berusaha menjauh, namun Jana tetap mengejarnya. Mulai dari bisnis kecil menjual
pulsa, obat untuk kesehatan dan masih banyak yang Jana tawarkan kepada Arfan.
Hingga akhirnya kedok yang menjadi perisai bagi Jana terbuka. Ternyata Jana
adalah pengedar obat berbahaya yang disebut narkoba. Usaha kecil-kecilan yang
ia tawarkan kepada Arfan hanya kebohongan belaka. Bisnis yang menguntungkan
adalah penjualan barang haram. Setelah mengetahui kebusukan Jana, Arfan berniat
melapor pada pihak berwajib, namun Jana dengan teas mengancamnya. Ini adalah
jalan hidup Arfan yang tak diketahui siapapun. Termasuk Rafi, ibunya dan
Amrina. Hanya Arfan, Jana, dan Tuhan Yang Maha Tahu yang mengetahui bingkai-bingkai
pahit kehidupan di sekeliling Arfan.
Prosedur yang telah dilakukan
Jana sudah matang dan sangat rahasia. Mungkin hanya Tuhan yang akan membongkar
semua. Sepandai-pandainya tupai melompat akan jatuh juga. Ketika transaksi
tengah berjalan, di pojok kota pahlawan itu, Arfan melintasi gang kecil dimana
transaksi Jana terjadi. Sedang terjadi kesepakatan dari kedua pihak. Dengan
sedikit rasa takut Arfan memberanikan diri untuk mengambil gambar proses
transaksi tersebut dengan handphonenya dari balik tempat sampah di depan gang
tersebut. Karena kurang waspada dan tidak hati-hati, tangan Arfan terkena benda
tajam di tempat sampah, alhasil dengan reflek rasa sakit ia berteriak “Aauu”
semua mata tertuju padanya. Arfan segera mundur dan lari dari medan laganya.
Berlari menjauh, hingga terjadi kejar-kejaran. Walau Arfan mencoba sekuat
tenaga untuk pergi, Jana dan anak buahnya lebih cepat. Arfan terpojok dan tertangkap.
Jika Tuhan menghendaki, saat itu mungkin Arfan bisa mati. Namun Jana hanya
mengambil handphone Arfan dan mengambil kartu memorinya. “Jangan berani-berani
Lu lapor polisi, atau hiduplu gua abisin”. Arfan segera berlari. Ia bersyukur
hidupnya tak berakhir sampai di situ.
Arfan terlalu berani, ia tidak
berpikir panjang dan menyudahi pertemuan menegangkan itu. Gambar yang ia ambil
tersimpan dalam memori internal telepon genggamnya. Ia memiliki kesempatan. Dua
pilihan yang beresiko. Ia bisa saja mengacuhkan Jana, namun hati kecilnya tidak
bisa terima jika semakin banyak orang yang masuk ke dalam perangkap Jana. Di
sisi lain ia takut untuk membongkar itu semua. Ia takut akan kenyamanan
hidupnya terganggu. Kawan, kekasih, dan keluarganya bisa saja dalam bahaya
karena ulahnya.
Entah bagaimana, keputusan akhir
yang Arfan buat adalah melapor. Keputusan yang salah bila Jana yang
berkomentar. Namun benar jika menurut pandangan Arfan. Dengan bermodalkan pembenaran
pada pendapatnya, ia nekat melaporkan kejadian itu pada pihak berwenang. Kini
Jana menjadi buronan. Namun masalah tidak berhenti di situ. Kehidupan cintanya
sedikit merenggang karena kesibukkan Arfan mengurus kasus Jana. Komunikasi
antara dirinya dengan Amrina semakin berkurang. Wajarnya seorang gadis
merindukan kekasihnya. Namun bagaimana jika yang dikasihi terlalu sibuk dengan
dirinya. Apakah masih bisa bertahan. Sebagai kekasih, Amrina bisa memaklumi
jika Arfan mau menceritakan masalahnya. Namun Arfan selalu membungkam seribu
bahasa.
Di tengah-tengah kesibukkan
Arfan, Amrina merasa kesepian. Ia ingin berbagi, namun kepada siapa. Akhirnya
Rafi yang selalu mengisi waktu kosongnya. Bila dulu selalu ada sms dari Arfan,
kini Rafi yang memenuhi kotak masuk Amrina. Dimana Arfan saat ia membutuhkannya.
Mungkin Arfan telah menghilang. Jangankan Amrina, Rafi dan keluarganya pun tak
tahu kemana Arfan belakangan itu. Ketika kasus Jana tiba-tiba lenyap, entah
kemana perginya “serigala berbulu domba” itu, Arfan belum juga kembali.
Arfan, dimana pun ia berada,
hanya dua hal yang ia pikirkan. Meminta maaf pada orangutanya, karena hampir
sebulan tak ada kabar. Dan pada Amrina, karena menghilang entah kemana. Ia
sadar perbuatannya tidak sepenuhnya benar. Selain itu, Jana masih berkeliaran
di luar sana. Arfan takut kenyamanan hidupnya dan orang-orang yang ia cintai
akan terusik karena Jana.
Bagi Amrina, Arfan adalah orang
yang istimewa. Walaupun tidak selalu ada. Kehadiran Rafi yang selalu ada,
membuat hati Amrina lebih tenang. Kesepian itu kian terisi dengan adanya Rafi
sebagai pengganti. Memang Amrina belum siap untuk menggantikan Arfan. Terlebih
lagi, Arfan dan Rafi bersahabat baik. Suatu saat takdir akan berkata lain, yang
istimewa tergantikan oleh yang selalu ada. Apakah Arfan siap jika
mengetahuinya. Padahal ia pergi, demi kebaikan semua, terutama untuk
hubungannya dengan Amrina. Namun Arfan salah. Seharusnya ia mengerti bahwa
Amrina ingin semua dihadapi bersama.
Selama satu bulan itu, Arfan
benar-benar menghilang. Ia jarang di kampus, sekalipun ada hanya beberapa hari.
Jika ditelepon, ia hanya berkata sedang sibuk, dan tidak ingin diganggu. Ibunya
sangat khawatir dengan keadaannya. Bahkan Tari, sebagai seorang ibu yang
menyayangi anaknya selalu menanyakan anaknya kepada Rafi. Pernah sekali Arfan
menelepon ibunya dan meminta maaf, lalu menghilang dan membuat tanda tanya
besar. “Bu. Maafin Arfan. Untuk beberapa minggu ini Arfan sangat sibuk. Arfan
tidak bisa menghubungi ibu dulu. Arfan harap ibu bisa mengerti.” Hanya kata-kata
itu yang menempel di telinga sang Ibu.
Sekian lama ditunggu akhirnya
Arfan kembali. Ia memang tak terlalu jauh namun ia telah lama pergi dari
kehidupannya, dan kini ia kembali. Memperbaiki hubungannya dengan Amrina. Arfan
sadar ia tak memiliki harapan. Ia mengerti sahabatnya juga menyukai Amrina.
Cinta harus dikorbankan untuk sahabatnya. Lalu bagaimana dengan Amrina yang
telah lama menunggu. Akan sangat menyakitkan untuknya. Arfan mencoba mencairkan
suasana layaknya tak pernah ada masalah yang terjadi. Amrina sangat penasaran,
ia menangis merindukan kekasihnya. Arfan belum juga menjelaskan apapun tentang
kepergiannya. Ia hanya menjelaskan kesibukkannya. Itu hal yang aneh dan membuat
Amrina enggan untuk percaya. Namun dengan keraguan itu, Amrina mencoba percaya.
Sedikit kebahagiaan cukup membuat
Amrina senang. Namun Arfan kembali menghilang. “kemana lagi dia? Selalu menjauh
dariku”. Amrina terlalu lelah dengan Arfan. Akhirnya ia memilih Rafi. Kebaikan
Arfan sudah selesai. “kamu dimana, Kak. Aku kangen sama kamu. Kamu terlalu
sibuk dengan urusanmu sendiri, sampai kamu lupa denganku. Sedangkan dia selalu
ada buatku. Kamu memang sangat istimewa, namun kamu gak selalu ada. Maaf aku
gak bisa terus sama kamu.” “aku ngerti, Dik. Jika kamau memang mau kita
berpisah. Akau menerimanya. Aku relakan kamu dengan dia.” “Apa! Hanya itu yang
kamu bilang. Apa kamu tidak sadar, aku masih memberimu harapan.” “tidak, Dik.
Kakak tidak menginginkannya. Lebih baik kamu mencari yang lebih baik.” “aku tak
habis pikir dengan Kakak. Aku benci”. Andaikan Amrina tahu yang terjadi. Ia tak
akan mengatakan hal itu.
Arfan kembali menghilang bukan
karena kesibukan biasa. Kasus Jana kembali hadir. Jana kembali beraksi. Ia
mengincar Arfan dan akan merusak kehidupannya lagi. Maka dari itu, Arfan merelakan Amrina. Agar ia aman dari
Jana. “Rafi, kamu itu sahabatku. Kamu juga saudaraku. Aku mohon jaga Amrina. Ia
lebih baik bersamamu”. Arfan tak bisa
menyertakan alasannya. Ia tak ingin saudaranya dalam bahaya. Rafi sangat
berharga, karena ia yang akan menjaga Amrina. Arfan hanya perlu berkorban,
walaupun ia sangat mencintai Amrina.
Saat Arfan keluar dari kampus, ia
pergi ke rumah temannya. Melewati gang yang sama dengan waktu itu. Jana yang sudah
tahu akan hal itu telah merencanakan hal buruk. Ia menunggu Arfan lalu ketika Arfan lewat, ia disergap.
Bahunya dipukul dengan keras. Seketika itupun Arfan pingsan. Jana membawa Arfan
pergi. Ketika terbangun Arfan tak tahu apa-apa. Ia hanya ingat kepalanya
terbentur benda keras.
“gua udah kasih kesempatan tapi
lu gak dengerin omongan gua.” Kata Jana
“Apa mau lu? Gua gak ada urusan
sama orang kayak Lu.” Kata Arfan
“Apa Lu bilang? Gua gak salah
denger? Gara-gara Lu, sekarang gua jadi buron”
“itu salah Lu sendiri karena Lu
jual barang haram”
“Gua ga minta Lu ikut campur,
tapi karena Lu udah masuk dalam permainan bisnis gua. Gua kasih Lu dua
pilihan.”
Hanya ada dua pilihan bagi Arfan.
Ia mati di sini, atau keluarganya dan Amrina yang jadi sasaran. Arfan tidak
menginginkan keduanya. Arfan rela melakukan apapun demi orang yang ia cintai.
Ternyata Jana sudah tahu siapa saja orang terdekat Arfan. Arfan tak punya
pilihan selain menuruti keinginan Jana. Awalnya Arfan ragu, lalu bagaimana
caranya selain itu. Arfan terpaksa membantu Jana mendistribusikan barang haram
tersebut. Dengan sedikit ancaman, Arfan akan mencair. Itulah kelemahannya.
Menjadi kaki tangan Jana membuat
Arfan menjadi orang lain. Hidupnya berubah menjadi lebih suram. Waktu-waktunya
habis untuk lari dari kejaran polisi. Jana membuat Arfan menjadi bagian dari
kelompoknya. Hingga suatu ketika, di hari yang panas. Kota itu seakan asing
bagi Arfan. Ia telah lelah berlari. Saat
kabur, ia bertemu Amrina. Amrina sangat kaget dengan keadaan Arfan. Pandangannya
tentang Arfan telah berubah. Kebaikan Arfan selam ini hilang dalam sekejap.
Amrina berlari tanpa mengetahui penjelasan dari Arfan. Yang dilihatnya hanya
Arfan membawa barang haram tersebut dan berlari dari polisi.
Arfan sudah tak memiliki
kehidupan indah lagi. Akhirnya ia menceritakan semua lewat surat kecil yang ia
tulis kepada Amrina. Setelah surat itu ia kirimkan melalui Laila, salah satu
teman Amrina yang ia percayai. Ia melaksanakan rencananya sejak awal. Dengan
taruhan hal yang terpenting dalam hidupnya. Ia menyiapkan hatinya untuk semua
itu. Namun Amrina yang tahu akan hal itu, memohon bantuan Rafi. Rafi mengerti
dan mereka segera mencari Arfan. Rafi sudah menyiapkan termasuk melapor polisi.
Ketika transaksi sedang
berlangsung, Arfan bergerak dengan tenang. Ia tak ingin nyawanya sampai
melayang. Polisi sedang mengintai dan bersiap-siap untuk menyergap. Terjadi
baku tembak. Arfan belum beraksi, ia menunggu saat yang tepat untuk menembak
Jana saat ia lengah. Sembari berlari menjauhi polisi, Arfan bersiap-siap
menembak. Jana yang sedang lengah berdiri agak jauh di depannya. Mereka
berlindung di bawah jembatan layang. Tanpa disadari tiba-tiba Amrina dan Rafi
lewat mengejar Arfan. Melihat hal itu, Jana mencari kesempatan untuk kabur.
Lalu menangkap Amrina dan menyanderanya. Polisi menahan tembakan. “hentikan
tembakan!” kata salah seorang polisi. Arfan sangat khawatir. “lepasin dia. Lu
udah janji gak akan lukain orang yang gua sayang”. Kata Arfan sambil menodongkan
pistolnya. “suruh mereka pergi. Jatuhkan senjata kalian!” Jana menggertak.
Arfan tidak perduli dengan
nyawanya, jika ada yang harus mati itu dirinya, bukan Amrina yang ia cinta.
Arfan berlari mendekat, “maafkan aku.. AMRINA!” arfan memanggilnya. Dan
tertembak. Polisi segera melumpuhkan Jana
dan Amrina berlari mendekati Arfan yang tertembak. Arfan tewas di pangkuan
Amrina. Ia senang Amrina baik-baik saja. “maafkan kakak, Dik. Jikasaja sejak
dulu kakak jujur. Sekarang tugas kakak sudah selesai. Kakak bukan malaikatmu
lagi, sekarang ada malaikat seperti Rafi yang akan menjagamu lebih baik dari
Kakak.” Rafi hanya diam mendengarkan kata-kata terakhir Arfan. Saudaranya telah
pergi. “Tuhan menciptakan malaikat hanya untuk malaikat, sedangkan aku bukan
malaikat. Kamu harus bahagia dengan malaikatmu, Dik. Berjanjilah”. Arfan telah
pergi, itu kenyataan pahit yang harus diterima. Amrina berteriak histeris,
menangis dan menyesali dirinya. Rafi tidak bisa berbuat apa-apa.
“KAK ARFAN!” teriak Amrina.
Membangunkan dirinya dari mimpi yang begitu panjang. Ia kaget melihat ruangan
putih. Tangannya diinfus. Dan kepalanya terasa sakit sekali. “Alhamdulillah
anakku, kamu sudah siuman.” Kata Linda, ibu Amrina. “apa yang terjadi, Ma?
Dimana aku” Amrina yang sudah sebulan koma di rumah sakit merasa bingung. Semua
seperti mimpi. “Apa kamu tidak ingat, Nak? Kamu sudah sebulan ini terbaring di
rumah sakit dan tidak sadarkan diri. Kamu jatuh dari tangga saat turun dari
lantai dua rumah kita.” Ternyata semua hanya mimpi, kisah hidup Arfan. Ia
menyaksikan semua dalam mimpinya. Bahkan perkataan terakhir Arfan. Siapakah
malaikat yang akan membawa Amrina terbang.
Setelah dua minggu terbangun dari
koma, bayang-bayang Arfan masih menjadi hantu dalam pikiran Amrina. Entah
siapakah Arfan. Hari ini, hari terakhir Amrina di rumah sakit. Ia sudah
diperbolehkan pulang setelah diperiksa dokter. “Nak, hari ini kita kedatangan
Tamu. Teman Mama dan anaknya akan mengantar kita pulang ke rumah. Itu mereka
sudah menunggu di luar.” Amrina berjalan ke luar pintu kamarnya. Melihat sosok
yang terlihat tak asing baginya tengah tegap berdiri di hadapannya.
Membelakangi gadis manis itu. “Nak, kenalkan ini anak Ibu, namanya Amrina.” Lelaki
itu berbalik. “Perkenalkan saya Arfan Wahid Zain, panggil saja Arfan”.
Tamat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar