Sabtu, 15 Maret 2014

Aku Bukan Malaikat

Sore itu, di hari pertama bulan Desember. Kota surabaya terlihat indah dengan pesonanya. Hilir mudik kendaraan, orang-orang berjalan kesana-sini, gerimis kecil menari-nari mengguyur makhluk di atas tanah. Di pojok jalan depan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, seorang tukang pentol menjarahkan dagangannya. Tanpa lelah ia menyusuri jalan menuju wonocolo.
Di belakangnya, terlihat seorang pemuda dengan kemeja hitam lengan panjang dan celana jeans biru tua. Sedang menunggu temannya. Entah hendak pergi kemana di hari yang mendung ini. Setelah beberapa menit menunggu, teman yang dinanti-nanti datang dengan membawa plastik penuh baju hasil cucian. Mahasiswa pemalas yang menyia-nyiakan uangnya untuk mesin cuci, padahal tangannya sudah cukup jika digunakan untuk sekedar mengurangi biaya hidup di tanah orang.
Dari jauh seorang Ibu menelepon anaknya yang membawa baju dari laundry itu. Dengan nada membentak, cukup mengagetkan ketika si anak jujur telah menghamburkan uang untuk hal sepele. Kehidupan pemuda ini sedikit sulit. Sebagai seorang perantau ia harus berhemat. Walaupun hidup dan pendidikannya selama empat tahun di Surabaya sudah ditanggung pemerintah, ia tidak bisa bersantai-santai dan menghamburkan uangnya. Tidak lain karena ayah dan ibunya bukan orang berada, yang setiap saat si anak membutuhkan uang, bisa ditransfer begitu saja.
“Mentang-mentang lagi banyak uang, ko hambur-hambur! Ibu gak tau bisa ngirimin lagi atau nggak. Jadi hemat-hemat, Fan!”
“Iya Bu! Cuma sekali ini Arfan nyuci di laundry, karena emang gak sempet. Lagi sibuk-sibuknya ngurusin osmajur. Gak ada waktu buat nyuci sendiri. Lagian kan gak banyak. Ibu tenang-tenang ajah, insyaallah Arfan bisa ngaturnya.”
Sore itu sangat melelahkan bagi Arfan, mahasiswa semester tiga di UIN Sunan Ampel. Setelah sebulan bersama teman-temannya di HMJ BKI[1], merencanakan kegiatan osmajur beserta pernak-perniknya. Ditambah tugas kuliah yang kian menumpuk dan kegiatan di asrama yang harus dijalani setiap harinya. Sebagai mahasiswa penerima beasiswa, ia sadar tidak mungkin berlama-lama diam di Surabaya. Yang terpenting adalah bagaimana menyudahi perkuliahan di semester ketujuh. Jika ia tidak bisa lulus di semester tujuh atau delapan, beasiswa itu tidak akan datang lagi. Dan semua impiannya akan sirna. Ia tidak punya waktu untuk bersenang-senang, bahkan untuk mencari kepingan hatinya yang hilang. Sejak lulus dari Madrasah di Bogor, ia memutuskan untuk pergi ke Surabaya dan mengambil beasiswanya. Meninggalkan semua kisah cinta masa SMA. Pacaran sudah sedemikian pelik baginya. Terpaksa ia mengakhiri hubungannya dengan seseorang. Dengan status dirinya sebagai lajang, untuk remaja jaman sekarang itu sulit sekali. Banyak godaan yang mengahampiri. Arfan bisa dibilang cukup tampan, karna itu banyak teman sebaya dan adik kelas yang meliriknya, namun tak pernah digubris. Ia malas memikirkan cinta.
Untuk satu alasan ia meninggalkan kekasihnya, yaitu untuk sang ibu. Tak mungkin Arfan bersenang-senang dengan cinta, sementara kesuksesan yang akan ia capai demi kebahagiaan sang ibu akan kandas karena cintanya pada seorang kekasih. Arfan lebih mencintai ibunya dibanding dengan wanita manapun. Kesedihan yang ia rasakan ketika rindu dengan ibu terpancar jelas jika ia tak bisa pulang saat liburan. Pastilah ia mengingat tatkala kecil. Saat itu usianya masih sebelas tahun, kira-kira kelas enam SD. Selepas sholat idul fitri, Arfan pulang lebih dulu dari masjid. Ibunya sangat terkejut. Ketika pulang, Arfan sudah menyiapkan bangku kecil dan air di bak, serta kain lap kering. Arfan mempersilahkan ibunya untuk duduk dan mencucikan kaki ibunya. Ibunya sangat terharu dan Arfan pun menangis di kaki ibunya, meminta doa dengan keikhlasan. Mungkin itulah yang menghantarkan Arfan hingga sampai sekarang. Doa seorang ibu yang menyayangi anaknya, dan anak yang mencintai ibunya. Jika teringat masa-masa itu, Arfan selalu menangis. Yang ia sesali, ketika berangkat ke Surabaya ia belum sempat mencuci kaki ibunya.
Mentari senja telah tenggelam. Malam kian menarik hati seorang perindu tenggelam dalam lembutnya pulau kapuk. Sang perindu merebahkan badannya di atas kasur.  Menebarkan angan ke seluruh penjuru alam raya. Mimipi memeluk kesunyian hatinya yang kosong. Mengisi lubang-lubang yang terbuat karena luka di masa lalu. Teriak dirinya dalam kegelapan, mengejar seorang gadis. Arfan tak menyadari itu mimpi. Ia berlari sendirian memanggil “AMRINA!!”. Suara menyusup ke telinganya. “Tuhan menciptakan malaikat hanya untuk malaikat, sedangkan aku bukan malaikat”. Siapa Amrina? Apa maksud suara itu? Entah siapa dan bagaimana dia. Itu hanya mimpi, siapapun Amrina, Arfan tak mengenalnya. Mungkin hanya bunga tidur semata. Lupakan segera, pikirnya.
Malam telah berlalu. Pagi menjemput seorang pemimpi, sebagai perahu untuk meninggalkan pulau kapuk. Solat itu lebih baik dari tidur. Tak terasa pagi itu, semua rasa lelah menghilang. Kesegaran meresap di tubuh penikmatnya. Cahaya dari timur menerobos celah-celah jendela kamar mahasantri. Kesejukkan embun pagi menghiasi panorama alam Surabaya. Puji tuhan yang menciptakan semua keindahan yang terlihat oleh mata makhluknya. Hari ini Arfan bergegas, semua sudah ia rapihkan dalam tasnya. Baju, celana, alat solat, dan keperluan lainnya. Pagi ini mahasiswa jurusan BKI akan berangkat menuju perkemahan. Perangkat “menginap di alam bebas” telah disapkan. Semua berkumpul, menjadi satu dalam warna biru bendera himpunan mahasiswa. Sebagai anggota yang baik, bukan kebiasaannya untuk telat. Ia pandai menjaga waktu.
Semua peserta adalah semester satu, dan panitia adalah semester tiga ke atas. Arfan pemuda yang rajin, terutama dalam berorganisasi. Loyalitasnya bisa diuji. Tangan kanan dan kiri mengangkut kardus berisi bahan-bahan konsumsi. Tiga tumpukan sembako ia bawa, sampai-sampai wajahnya tertutup. Hampir saja ia tersandung dan terjatuh. Dua hari sebelum kegiatan Arfan sempat menyiapkan barang-barang untuk acara, ia membawa setumpuk tenda di tangannya. Tanpa melihat ada orang di depannya. Berjalan saja perlahan, dan menabrak seseorang. Gadis jawa dengan pipi mungil dihadapannya. Terjatuh berdua dan tanpa sengaja gadis manis itu merajuk tak karuan.
“Aduh, mas liat-liat dong kalo jalan. Kan jadi jatuh nih sayanya!.”dengan nada ketus ia bicara. “Maaf, Mbak. Saya gak sengaja. Permisi saya buru-buru.” Sambil merapihkan barang bawaannya Arfan menjauh. Sedikit menoleh menatap gadis yang ditabraknya. Dan pergi terburu-buru. Sambil perlahan menjauh ia mendengar, “Kamu gak apa-apa Amrina?” kata seorang teman gadis itu. Kembali mengingat nama itu dalam lamunannya, ah sudahlah, mungkin hanya kebetulan yang tidak disengaja. Berjuta orang hidup di bumi pertiwi, nama Amrina tidak sedikit tentunya. Bayangan itu pun masih samar. Entah bagaimana mungkin tuhan mengizinkan atau takdir-Nya yang berbicara, saat seluruh peserta berkumpul, seorang gadis menegur Arfan dari belakang. “ehh, maaf permisi, Kak.” Dia Amrina, gadis yang dua hari lalu ditabraknya. “Kamu? Eh kenapa? Maaf waktu itu saya nabrak kamu.” Melihat wajah Arfan, membuat Amrina merasa malu karena perkataannya. “hah! Kamu? Aduh kakak, maaf yah waktu itu saya gak tau. Pantas saja waktu itu buru-buru, ternyata lagi nyiapin barang-barang buat osjur yah, kak? Jadi malu akunya, maaf karena kurang sopan ” “oh, iyah gak apa-apa, gakk usah dipikirin, tadi kamu mau ngomong apa?” “eh iyah, hampir lupa. Begini, kak. Kelompokku belum datang semua, jadi tolong ditunggu sebentar lagi yah.” “iyah, kamu tenang saja, panitia jugaa masih rapih-rapih. Lagi pula mana mungkin kita ninggalin peserta gitu aja. Sekarang kamu kumpul aja di barisan, bareng temen-temen yang lain.” “oke, kakak. Oiyah kakak namanya siapa?” “Arfan, itu nama saya.” Arfan langsung pergi membantu panitia lainnya. Sedangkan Amrina berkumpul dengan peserta lain bersama kebingungan di hatinya, sedikit senyuman. Mungkin ini cinta pandangan pertama, tapi ini bukan pertama kali ia bertemu dengannya. Ah sudahlah, hidup ini masih koma, belum sampai pada titiknya. Buat apa terlalu banyak berpikir, jalani saja bagai air mengalir.
Pagi yang indah di bumi perkemahan. Dua hari terlewati, pagi ini semua bersenang-senang setelah berolahraga berjamaah. Panitia pun tak terlalu sibuk, hanya beberapa orang di dalam arena kemah, dan beberapa orang termasuk Arfan keluar mencari jalan sebagai rute outbond. Amrina dan temannya berdiri di depan pintu masuk perkemahan dengan teman-temannya, sekedar berfoto. Arfan meliriknya, mungkinkah ini cinta? Ah cepat-cepat memalingkan wajahnya. Cinta ini tak tepat waktu. Untuk apalah cinta jika hanya mengundang luka nantinya. Arfan segera pergi, Amrina tahu dengan tatapan tadi, Arfan melihatnya, merasa aneh dengan hal itu, Amrina hanya tersenyum. Arfan menjauh dan mengejar teman-temannya.
Bunga bugenvil tersebar di bumi perkemahan, di bawah kaki gunung yang indah. Warna warni alam nusantara. Merenung mengaguminya. Indah, tak ada kata lain selain itu. Teringat gadi jawa dengan pipi mungil itu, manis wajahnya mengganggu pikiran. Bagaimana bunga menyampaikan rasa. Akhirnya, bunga menjadi jawaban. Awalnya Arfan hanya mengambil setangkai bunga bugenvil merah. Lalu sepanjang jalan setangkai demi setangkai, hingga bunga di tangannya semakin banyak. “untuk apa bunga sebanyak ini” pikirnya. Sedikit demi sedikit bunga itu dibuangnya, hingga sampai di perkemahan, hanya tersisa satu tangkai bunga merah. “kayaknya ada yang jatuh cinta nih.” Kata Rafi, sahabat Arfan. “Apaan sih, segala jatuh cinta.” “kamu gak bisa bohong, Fan. Kelihatan di matamu.” “haha, memang ada apa di mataku? Kamu sok tahu, kayak dukun aja.” Setangkai bunga yang tersisa tak juga dibuang oleh Arfan. “untuk siapa bunga ini” pikirnya.
Benih-benih cinta mulai tumbuh dari setangkai bunga bugenvil. Kelopaknya memekarkan rasa di hati. “Apakah salah cinta itu. Lalu bagaimana menjaga janji ini. Apakah dia akan menerima. Lalu bagaimana jika aku terlena olehnya.” Bayang-bayang ketakutan menyelimuti hati kecil Arfan, di satu sisi ia merasakan cinta, dan di sisi lain ia tak ingin mengganggu kehidupannya yang lurus dengan memasukkan setitik cinta ke dalamnya. Akhirnya ia memberanikan diri untuk melanjutkan cinta itu kembali. Tanpa sadar seorang gadis memecah lamunan Arfan. “wah bunganya bagus. Buat siapa tuh kak?” Arfan kaget dan wajahnya memerah. “Ehh, buat siapa yah? Buat kamu aja deh.” Sambil tersenyum meninggalkan setangkai bunga untuk gadis yang tak lain adalah Amrina. Bidadari yang hadir kembali dalam hidupnya.
Berawal dari perkemahan yang dingin, malam yang sunyi dan setangkai bunga oranye. Arfan menemukan sesuatu yang telah lama hilang dan telah pergi dari hidupnya. Kekasih yang akan menyemangati hidupnya. Atau mungkin dialah Amrina yang dulu masuk dalam mimpinya. Apakah Amrina yang pernah ditabraknya akan menjadi malaikatnya. Arfan berusaha menguatkan hatinya. Di sela-sela kegiatan osmajur, ia mulai mendekati Amrina. Yang tak disadarinya, ternyata Amrina pun menyimpan rasa. “kenapa dik? Dingin yah?” dengan lembut ia menyapa. “iyah kak” “yasudah pakai jaket kakak saja, biar kamu gak kedinginan” “lantas kakak pakai apa?” “kakak udah biasa kok”. Cinta mulai mengikat hati keduanya.
Berjalan dengan waktu, mereka mulai dekat. Mulai dari bertukar nomer handphone. Belajar bersama, dan bergabung di crew mading di HMJ. Hingga akhirnya mereka menjalin cinta. Dua insan yang menjalin asmara ini tak mengetahui takdir yang menunggu di depan. Mungkin akan banyak rintangan mendera kehidupan mereka. Namun bagaimanapun sulitnya itu, keyakinan akan semangat hidup yang lebih baik, tertanam kuat di hati keduanya. Awalnya hubungan mereka tertutup, namun lama-kelamaan semakin banyak yang tahu. Termasuk ibunya Arfan. Meski sedikit takut pendidikan anaknya terganggu, namun Tari, Ibunya Arfan ini merasa Arfan memang perlu seseorang untuk memberikan semangat selain dirinya. Mungkin dengan adanya Amrina, Arfan bisa lebih tenang dan tidak terlalu banyak pikiran yang terkadang menjadi beban pikirannya. “Mungkin sudah saatnya Arfan bisa bernafas dengan hatinya” pikir sang ibu.
Selain dekat dengan Arfan, Amrina juga mengenal Rafi sebagai sahabat Arfan. Sebagai kekasih yang baik, Amrina mengerti posisi Rafi sebagai orang ketiga dalam hubungan mereka. Jika Arfan sedang dalam masalah dan tak bisa memberi tahu siapapun, orang yang pertama tahu adalah Rafi. Mereka sudah seperti kakak dan adik. Arfan yang sudah hampir satu tahun tidak pulang ke Bogor, biasa menghabiskan liburannya di rumah Rafi. Di sana ia sudah dianggap anak oleh orang tua Rafi. Rafi adalah jembatan penghubung antara Amrina dan Arfan. Di sisi lain, Rafi juga memiliki rasa. Rasa yang sama seperti Arfan. Cinta. Itulah yang selalu mengganggunya. Siapa lagi kalau bukan kekasih Arfan, Amrina. Rafi memendam rasa cintanya kepada Amrina. Ia tak ingin mengganggu dua insan cinta itu. Meskipun terkadang merasa iri, Rafi mampu menguasai hatinya. “Mungkin ini hanya rasa sesaat. Aku tak akan maju lebih jauh, dia milik Arfan. Saudaraku. Bukan hakku untuk memilikinya.” Pikirnya. Kisah cinta yang aneh melingkari ketiga makhluk ini.
Hampir sebulan, ruang rindu tak berguncang, taman hati tak pergi, dan teman cinta menemani. Kehidupan yang sejuk itu menjadi pelindung hati yang gundah dan hidup yang kelam. Hingga suatu ketika, pengganggu datang dalam hidup mereka. Jana, seorang musuh dalam selimut yang menusuk dari belakang. Ia mengajak Arfan untuk membuat kerusakan. Awalnya hanya mengajak berbisnis dengan iming-iming penghasilan besar. Pekerjaan yang ringan dan tidak memerlukan banyak waktu. Dengan harapan menghemat uang, Arfan masuk dalam ruang lingkup pekerjaan Jana. Tanpa disadari Arfan telah masuk dalam lubang buaya.
Jana adalah seorang pengedar barang haram. Ia bukan mahasiswa di kampus Arfan, bukan pula teman satu daerah. Ia hanya kenalan lewat jejaring sosial. Arfan mengenalnya karena kebetulan yang dibuat-buat oleh Jana. Mulanya Arfan yang tidak tahu apa-apa ditelpon oleh Jana yang sedang mencari orang untuk bergabung dengannya. Alasannya adalah untuk mengkonfirmasi kode dari facebook Jana, yang ia akui telah di-hack[2] oleh orang lain. Mulai saat itu Arfan mulai mengenal Jana. Sejak awal Arfan berusaha menjauh, namun Jana tetap mengejarnya. Mulai dari bisnis kecil menjual pulsa, obat untuk kesehatan dan masih banyak yang Jana tawarkan kepada Arfan. Hingga akhirnya kedok yang menjadi perisai bagi Jana terbuka. Ternyata Jana adalah pengedar obat berbahaya yang disebut narkoba. Usaha kecil-kecilan yang ia tawarkan kepada Arfan hanya kebohongan belaka. Bisnis yang menguntungkan adalah penjualan barang haram. Setelah mengetahui kebusukan Jana, Arfan berniat melapor pada pihak berwajib, namun Jana dengan teas mengancamnya. Ini adalah jalan hidup Arfan yang tak diketahui siapapun. Termasuk Rafi, ibunya dan Amrina. Hanya Arfan, Jana, dan Tuhan Yang Maha Tahu yang mengetahui bingkai-bingkai pahit kehidupan di sekeliling Arfan.
Prosedur yang telah dilakukan Jana sudah matang dan sangat rahasia. Mungkin hanya Tuhan yang akan membongkar semua. Sepandai-pandainya tupai melompat akan jatuh juga. Ketika transaksi tengah berjalan, di pojok kota pahlawan itu, Arfan melintasi gang kecil dimana transaksi Jana terjadi. Sedang terjadi kesepakatan dari kedua pihak. Dengan sedikit rasa takut Arfan memberanikan diri untuk mengambil gambar proses transaksi tersebut dengan handphonenya dari balik tempat sampah di depan gang tersebut. Karena kurang waspada dan tidak hati-hati, tangan Arfan terkena benda tajam di tempat sampah, alhasil dengan reflek rasa sakit ia berteriak “Aauu” semua mata tertuju padanya. Arfan segera mundur dan lari dari medan laganya. Berlari menjauh, hingga terjadi kejar-kejaran. Walau Arfan mencoba sekuat tenaga untuk pergi, Jana dan anak buahnya lebih cepat. Arfan terpojok dan tertangkap. Jika Tuhan menghendaki, saat itu mungkin Arfan bisa mati. Namun Jana hanya mengambil handphone Arfan dan mengambil kartu memorinya. “Jangan berani-berani Lu lapor polisi, atau hiduplu gua abisin”. Arfan segera berlari. Ia bersyukur hidupnya tak berakhir sampai di situ.
Arfan terlalu berani, ia tidak berpikir panjang dan menyudahi pertemuan menegangkan itu. Gambar yang ia ambil tersimpan dalam memori internal telepon genggamnya. Ia memiliki kesempatan. Dua pilihan yang beresiko. Ia bisa saja mengacuhkan Jana, namun hati kecilnya tidak bisa terima jika semakin banyak orang yang masuk ke dalam perangkap Jana. Di sisi lain ia takut untuk membongkar itu semua. Ia takut akan kenyamanan hidupnya terganggu. Kawan, kekasih, dan keluarganya bisa saja dalam bahaya karena ulahnya.
Entah bagaimana, keputusan akhir yang Arfan buat adalah melapor. Keputusan yang salah bila Jana yang berkomentar. Namun benar jika menurut pandangan Arfan. Dengan bermodalkan pembenaran pada pendapatnya, ia nekat melaporkan kejadian itu pada pihak berwenang. Kini Jana menjadi buronan. Namun masalah tidak berhenti di situ. Kehidupan cintanya sedikit merenggang karena kesibukkan Arfan mengurus kasus Jana. Komunikasi antara dirinya dengan Amrina semakin berkurang. Wajarnya seorang gadis merindukan kekasihnya. Namun bagaimana jika yang dikasihi terlalu sibuk dengan dirinya. Apakah masih bisa bertahan. Sebagai kekasih, Amrina bisa memaklumi jika Arfan mau menceritakan masalahnya. Namun Arfan selalu membungkam seribu bahasa.
Di tengah-tengah kesibukkan Arfan, Amrina merasa kesepian. Ia ingin berbagi, namun kepada siapa. Akhirnya Rafi yang selalu mengisi waktu kosongnya. Bila dulu selalu ada sms dari Arfan, kini Rafi yang memenuhi kotak masuk Amrina. Dimana Arfan saat ia membutuhkannya. Mungkin Arfan telah menghilang. Jangankan Amrina, Rafi dan keluarganya pun tak tahu kemana Arfan belakangan itu. Ketika kasus Jana tiba-tiba lenyap, entah kemana perginya “serigala berbulu domba” itu, Arfan belum juga kembali.
Arfan, dimana pun ia berada, hanya dua hal yang ia pikirkan. Meminta maaf pada orangutanya, karena hampir sebulan tak ada kabar. Dan pada Amrina, karena menghilang entah kemana. Ia sadar perbuatannya tidak sepenuhnya benar. Selain itu, Jana masih berkeliaran di luar sana. Arfan takut kenyamanan hidupnya dan orang-orang yang ia cintai akan terusik karena Jana.
Bagi Amrina, Arfan adalah orang yang istimewa. Walaupun tidak selalu ada. Kehadiran Rafi yang selalu ada, membuat hati Amrina lebih tenang. Kesepian itu kian terisi dengan adanya Rafi sebagai pengganti. Memang Amrina belum siap untuk menggantikan Arfan. Terlebih lagi, Arfan dan Rafi bersahabat baik. Suatu saat takdir akan berkata lain, yang istimewa tergantikan oleh yang selalu ada. Apakah Arfan siap jika mengetahuinya. Padahal ia pergi, demi kebaikan semua, terutama untuk hubungannya dengan Amrina. Namun Arfan salah. Seharusnya ia mengerti bahwa Amrina ingin semua dihadapi bersama.
Selama satu bulan itu, Arfan benar-benar menghilang. Ia jarang di kampus, sekalipun ada hanya beberapa hari. Jika ditelepon, ia hanya berkata sedang sibuk, dan tidak ingin diganggu. Ibunya sangat khawatir dengan keadaannya. Bahkan Tari, sebagai seorang ibu yang menyayangi anaknya selalu menanyakan anaknya kepada Rafi. Pernah sekali Arfan menelepon ibunya dan meminta maaf, lalu menghilang dan membuat tanda tanya besar. “Bu. Maafin Arfan. Untuk beberapa minggu ini Arfan sangat sibuk. Arfan tidak bisa menghubungi ibu dulu. Arfan harap ibu bisa mengerti.” Hanya kata-kata itu yang menempel di telinga sang Ibu.
Sekian lama ditunggu akhirnya Arfan kembali. Ia memang tak terlalu jauh namun ia telah lama pergi dari kehidupannya, dan kini ia kembali. Memperbaiki hubungannya dengan Amrina. Arfan sadar ia tak memiliki harapan. Ia mengerti sahabatnya juga menyukai Amrina. Cinta harus dikorbankan untuk sahabatnya. Lalu bagaimana dengan Amrina yang telah lama menunggu. Akan sangat menyakitkan untuknya. Arfan mencoba mencairkan suasana layaknya tak pernah ada masalah yang terjadi. Amrina sangat penasaran, ia menangis merindukan kekasihnya. Arfan belum juga menjelaskan apapun tentang kepergiannya. Ia hanya menjelaskan kesibukkannya. Itu hal yang aneh dan membuat Amrina enggan untuk percaya. Namun dengan keraguan itu, Amrina mencoba percaya.
Sedikit kebahagiaan cukup membuat Amrina senang. Namun Arfan kembali menghilang. “kemana lagi dia? Selalu menjauh dariku”. Amrina terlalu lelah dengan Arfan. Akhirnya ia memilih Rafi. Kebaikan Arfan sudah selesai. “kamu dimana, Kak. Aku kangen sama kamu. Kamu terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri, sampai kamu lupa denganku. Sedangkan dia selalu ada buatku. Kamu memang sangat istimewa, namun kamu gak selalu ada. Maaf aku gak bisa terus sama kamu.” “aku ngerti, Dik. Jika kamau memang mau kita berpisah. Akau menerimanya. Aku relakan kamu dengan dia.” “Apa! Hanya itu yang kamu bilang. Apa kamu tidak sadar, aku masih memberimu harapan.” “tidak, Dik. Kakak tidak menginginkannya. Lebih baik kamu mencari yang lebih baik.” “aku tak habis pikir dengan Kakak. Aku benci”. Andaikan Amrina tahu yang terjadi. Ia tak akan mengatakan hal itu.
Arfan kembali menghilang bukan karena kesibukan biasa. Kasus Jana kembali hadir. Jana kembali beraksi. Ia mengincar Arfan dan akan merusak kehidupannya lagi. Maka dari itu,  Arfan merelakan Amrina. Agar ia aman dari Jana. “Rafi, kamu itu sahabatku. Kamu juga saudaraku. Aku mohon jaga Amrina. Ia lebih baik bersamamu”.  Arfan tak bisa menyertakan alasannya. Ia tak ingin saudaranya dalam bahaya. Rafi sangat berharga, karena ia yang akan menjaga Amrina. Arfan hanya perlu berkorban, walaupun ia sangat mencintai Amrina.
Saat Arfan keluar dari kampus, ia pergi ke rumah temannya. Melewati gang yang sama dengan waktu itu. Jana yang sudah tahu akan hal itu telah merencanakan hal buruk. Ia menunggu  Arfan lalu ketika Arfan lewat, ia disergap. Bahunya dipukul dengan keras. Seketika itupun Arfan pingsan. Jana membawa Arfan pergi. Ketika terbangun Arfan tak tahu apa-apa. Ia hanya ingat kepalanya terbentur benda keras.
“gua udah kasih kesempatan tapi lu gak dengerin omongan gua.” Kata Jana
“Apa mau lu? Gua gak ada urusan sama orang kayak Lu.” Kata Arfan
“Apa Lu bilang? Gua gak salah denger? Gara-gara Lu, sekarang gua jadi buron”
“itu salah Lu sendiri karena Lu jual barang haram”
“Gua ga minta Lu ikut campur, tapi karena Lu udah masuk dalam permainan bisnis gua. Gua kasih Lu dua pilihan.”
Hanya ada dua pilihan bagi Arfan. Ia mati di sini, atau keluarganya dan Amrina yang jadi sasaran. Arfan tidak menginginkan keduanya. Arfan rela melakukan apapun demi orang yang ia cintai. Ternyata Jana sudah tahu siapa saja orang terdekat Arfan. Arfan tak punya pilihan selain menuruti keinginan Jana. Awalnya Arfan ragu, lalu bagaimana caranya selain itu. Arfan terpaksa membantu Jana mendistribusikan barang haram tersebut. Dengan sedikit ancaman, Arfan akan mencair. Itulah kelemahannya.
Menjadi kaki tangan Jana membuat Arfan menjadi orang lain. Hidupnya berubah menjadi lebih suram. Waktu-waktunya habis untuk lari dari kejaran polisi. Jana membuat Arfan menjadi bagian dari kelompoknya. Hingga suatu ketika, di hari yang panas. Kota itu seakan asing bagi Arfan. Ia telah lelah berlari.  Saat kabur, ia bertemu Amrina. Amrina sangat kaget dengan keadaan Arfan. Pandangannya tentang Arfan telah berubah. Kebaikan Arfan selam ini hilang dalam sekejap. Amrina berlari tanpa mengetahui penjelasan dari Arfan. Yang dilihatnya hanya Arfan membawa barang haram tersebut dan berlari dari polisi.
Arfan sudah tak memiliki kehidupan indah lagi. Akhirnya ia menceritakan semua lewat surat kecil yang ia tulis kepada Amrina. Setelah surat itu ia kirimkan melalui Laila, salah satu teman Amrina yang ia percayai. Ia melaksanakan rencananya sejak awal. Dengan taruhan hal yang terpenting dalam hidupnya. Ia menyiapkan hatinya untuk semua itu. Namun Amrina yang tahu akan hal itu, memohon bantuan Rafi. Rafi mengerti dan mereka segera mencari Arfan. Rafi sudah menyiapkan termasuk melapor polisi.
Ketika transaksi sedang berlangsung, Arfan bergerak dengan tenang. Ia tak ingin nyawanya sampai melayang. Polisi sedang mengintai dan bersiap-siap untuk menyergap. Terjadi baku tembak. Arfan belum beraksi, ia menunggu saat yang tepat untuk menembak Jana saat ia lengah. Sembari berlari menjauhi polisi, Arfan bersiap-siap menembak. Jana yang sedang lengah berdiri agak jauh di depannya. Mereka berlindung di bawah jembatan layang. Tanpa disadari tiba-tiba Amrina dan Rafi lewat mengejar Arfan. Melihat hal itu, Jana mencari kesempatan untuk kabur. Lalu menangkap Amrina dan menyanderanya. Polisi menahan tembakan. “hentikan tembakan!” kata salah seorang polisi. Arfan sangat khawatir. “lepasin dia. Lu udah janji gak akan lukain orang yang gua sayang”. Kata Arfan sambil menodongkan pistolnya. “suruh mereka pergi. Jatuhkan senjata kalian!” Jana menggertak.
Arfan tidak perduli dengan nyawanya, jika ada yang harus mati itu dirinya, bukan Amrina yang ia cinta. Arfan berlari mendekat, “maafkan aku.. AMRINA!” arfan memanggilnya. Dan tertembak.  Polisi segera melumpuhkan Jana dan Amrina berlari mendekati Arfan yang tertembak. Arfan tewas di pangkuan Amrina. Ia senang Amrina baik-baik saja. “maafkan kakak, Dik. Jikasaja sejak dulu kakak jujur. Sekarang tugas kakak sudah selesai. Kakak bukan malaikatmu lagi, sekarang ada malaikat seperti Rafi yang akan menjagamu lebih baik dari Kakak.” Rafi hanya diam mendengarkan kata-kata terakhir Arfan. Saudaranya telah pergi. “Tuhan menciptakan malaikat hanya untuk malaikat, sedangkan aku bukan malaikat. Kamu harus bahagia dengan malaikatmu, Dik. Berjanjilah”. Arfan telah pergi, itu kenyataan pahit yang harus diterima. Amrina berteriak histeris, menangis dan menyesali dirinya. Rafi tidak bisa berbuat apa-apa.
“KAK ARFAN!” teriak Amrina. Membangunkan dirinya dari mimpi yang begitu panjang. Ia kaget melihat ruangan putih. Tangannya diinfus. Dan kepalanya terasa sakit sekali. “Alhamdulillah anakku, kamu sudah siuman.” Kata Linda, ibu Amrina. “apa yang terjadi, Ma? Dimana aku” Amrina yang sudah sebulan koma di rumah sakit merasa bingung. Semua seperti mimpi. “Apa kamu tidak ingat, Nak? Kamu sudah sebulan ini terbaring di rumah sakit dan tidak sadarkan diri. Kamu jatuh dari tangga saat turun dari lantai dua rumah kita.” Ternyata semua hanya mimpi, kisah hidup Arfan. Ia menyaksikan semua dalam mimpinya. Bahkan perkataan terakhir Arfan. Siapakah malaikat yang akan membawa Amrina terbang.
Setelah dua minggu terbangun dari koma, bayang-bayang Arfan masih menjadi hantu dalam pikiran Amrina. Entah siapakah Arfan. Hari ini, hari terakhir Amrina di rumah sakit. Ia sudah diperbolehkan pulang setelah diperiksa dokter. “Nak, hari ini kita kedatangan Tamu. Teman Mama dan anaknya akan mengantar kita pulang ke rumah. Itu mereka sudah menunggu di luar.” Amrina berjalan ke luar pintu kamarnya. Melihat sosok yang terlihat tak asing baginya tengah tegap berdiri di hadapannya. Membelakangi gadis manis itu. “Nak, kenalkan ini anak Ibu, namanya Amrina.” Lelaki itu berbalik. “Perkenalkan saya Arfan Wahid Zain, panggil saja Arfan”.
Tamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar