Sabtu, 15 Maret 2014

rational emotive teraphy

RATIONAL EMOTIVE TERAPHY
A.     KONSEP DASAR
Menurut Albert Ellis, manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional.
Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional tersebut merupakan akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional, yang mana emosi yang menyertai individu dalam berpikir penuh dengan prasangka, sangat personal, dan irasional.
Berpikir irasional ini diawali dengan belajar secara tidak logis yang biasanya diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari kata-kata yang digunakan. Kata-kata yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan kata-kata yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. Para penganut teori RET percaya bahwa tidak ada orang yang disalahkan dalam segala sesuatu yang dilakukannya, tetapi setiap orang bertanggung jawab akan semua perilakunya.
Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus melawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psikologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional.
B.     CIRI-CIRI KONSELING RASIONAL-EMOTIF
1.      Dalam menelusuri masalah klien yang dibantunya, konselor berperan lebih aktif dibandingkan dengan klien
2.      Dalam proses hubungan konseling harus tetap diciptakan dan dipelihara hubungan baik dengan klien.
3.      Tercipta dan terpeliharanya hubungan baik ini di pergunakan oleh konselor untuk membantu klien mengubah cara berfikirnya yang tidak rasional menjadi rasional.
C.     BIOGRAFI ALBERT ELLIS (PENCETUS)
Albert Ellis lahir di Pittsburgh , 27 September 1913 – meninggal 24 Juli 2007 pada umur 93 tahun merupakan seorang psikolog Amerika, yang menulis buku berjudul How to Live with a Neurotic. Ia juga pendiri Institute for Rational Living. Ellis telah menerbitkan 54 buku dan lebih dari 600 artikel tentang REBT (Rational Emotive Behavioral Therapy), seks, dan perkawinan. Terakhir, ia menjabat sebagai presiden dari [The Institute for Rational Emotive Therapy] di New York.
D.     SEJARAH PERKEMBANGAN RET
Rasional Emotive Behavior Therapy sebelumnya disebut rational therapy dan rational emotive therapy, (REBT) merupakan terapi yang komprehensif, aktif-direktif, filosofis dan empiris berdasarkan psikoterapi yang berfokus pada penyelesaian masalah-masalah gangguan emosional dan perilaku, serta menghantarkan individu untuk lebih bahagia dan hidup yang lebih bermakna (fulfilling lives). REBT diciptakan dan dikembangkan oleh Albert Ellis (1950an), seorang psikoterapis yang terinspirasi oleh ajaran-ajaran filsuf Asia, Yunani, Romawi dan modern yang lebih mengarah pada teori belajar kognitif. Ia juga seorang psikoanalisis, tetapi kemudian ia merasakan psikoanalisis tidak efisien.
Terapi rasional-emotif dalam perkembangannya memiliki banyak nama, antara lain: rational theraphy, semantic therapy, cognitive therapy, dan rational behavior training. Dalam teori konseling, terapi rasional-emotif termasuk dallam kategori terapi kognitif-behavior, karena rasional-emotif lebih menitikberatkan pada proses berpikir, menilai, memutuskan, menganalisis dan bertindak. Rasional-emotif sangat didaktif dan direktif serta lebih banyak berhubungan dengan dimensi [ikiran daripada perrasaan.
Asal-usul terapi rasional-emotif dapat ditelusuri dengan filosofi dari Stoicisme di Yunani kuno yang membedakan tindakan dari interpretasinya. Epictetus dan Marcus Aurelius dalam bukunya “The Enchiridion”, menyatakan bahwa manusia tidak begitu banyak dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada dirinya, melainkan bagaimana manusia memandang/menafsirkan apa yang terjadi pada dirinya (People are not disturbed by things, but by the view they take of them).
Pada mulanya Ellis menggunakan psikoanalisis dan person-centered therapy dalam proses terapi, namun ia merasa kurang puas dengan pendekatan dan hipotesis tingkah laku klien yang dipengaruhi oleh sikap dan persepsi mereka. Hal inilah yang memotiviasi Ellis mengembangkan pendekatan rational emotive dalam psikoterapi yang ia percaya dapat lebih efektif dan efisien dalam memberikan efek terapeutik. Ellis mengembangkan teori A-B-C (Antecedent event, Belief, Emotional Consequence )dan kemudian dimodifikasi menjadi pendekatan A-B-C-D-E-F (Antecedent event, Belief, Emotional Consequence, Dispute, Effects) yang digunakan untuk memahami kepribadian dan untuk mengubah kepribadian secara efektif. Pada tahun 1990-an, Ellis mengganti nama pendekatan tersebut dengan Rasional Emotive Behavior Therapy atau yang biasa kita singkat menjadi REBT. Sampai saat ini, REBT merupakan salah satu bagian dari Cognitive Behavior Therapy (CBT).
E.     HAKIKAT MANUSIA
1.    Manusia adalah makhluk yang berpotensi.
2.    Manusia adalah makhluk berfikir, merasa dan berbuat.
3.    Manusia adalah makhluk mudah kena pengaruh (cultural influencebility)
4.    Perilaku verbal dan berfikir manusia.
5.    Sumber perilaku manusia ditentukan oleh nilai atau ide-ide (pandangan).
6.    Manusia memiliki verbalisasi diri gangguan.
7.    Manusia memiliki kemampuan konfrontasi dan indoktrinasi
8.    Manusia adalah makhluk yang unik
Pendekatan Rational Emotive Behavior Therapi (REBT) memandang manusia sebagai individu yang didominasi oleh sistem berfikir dan sistem perasaan yang berkaitan dalam sistem psikis individu. Keberfungsian individu secara psikologis ditentukan oleh fikiran, perasaan dan tingkah laku. Tiga aspek ini saling berkaitan karena satu aspek mempengaruhi aspek lainnya.
Secara khusus, pendekatan ini berasumsi bahwa individu memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.      Individu memiliki potensi yang unik untuk berfikir rasional dan irrasional.
2.      Pikiran irasional berasal dari proses belajar, yang irasional didapat dari orangtua dan budayanya.
3.      Manusia adalah makhluk verbal dan berfikir melalui simbol dan bahasa. Dengan demikian, gangguan emosional yang dialami individu disebabkan oleh verbalisasi ide dan pemikiran irrasional
4.      Gangguan(self verbalising) yang terus menerus emosional yang disebabkan oleh verbalisasi  dan persepsi serta sikap terhadap kejadian merupakan akar permasalahan, bukan karena kejadian itu sendiri.
5.      Individu memiliki potensi untuk mengubah arah hidup personal dan sosialnya.
6.      Pikiran dan perasaan yang negatif dan merusak diri dapat diserang dengan mengorganisasikan kembali persepsi dan pemikiran, sehingga menjadi logis dan rasional.
F.      PRIBADI SEHAT DAN BERMASALAH
1.      pribadi Sehat
Individu yang dapat berpikir secara rasional dalam menanggapi setiap rangsangan terhadap dirinya.
2.      Pribadi Bermasalah
Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. Terdapat tujuh faktor yang dapat digunakan untuk mendeteksi pikiran irasional, yaitu:
a)    Lihat pada generalisasi yang berlebihan (overgeneralization)
b)   Lihat pada distorsi (distortion)
c)    Lihat pada hal-hal yang dihapus (deletion)
d)   Lihat pada hal-hal yang dianggap tragedi atau bencana (catastrophising)
e)    Lihat pada penggunaan kata-kata absolut
f)    Lihat pada pernyataan yang menunjukkan ketidaksetujuan terhadap sesuatu atau seseorang yang konseli pikir mereka tidak dapat menahannya.
g)    Lihat pada ramalan atau prediksi masa depan.
G.    TUJUAN KONSELING
Tujuan utama dari konseling rational emotif ialah menunjukkan dan menyadarkan klien bahwa cara berpikir yang tidak logis itulah merupakan penyebab gangguan emosionilnya. konseling rational - emotif ini bertujuan membantu klien membebaskan dirinya dari cara berpikir atau ide - idenya yang tidak ogis dan menggantinya dengan cara - cara yang logis.
Konseling dengan RET memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan self-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah.
Tiga tingkatan insight (wawasan) yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif :
1.      Insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu.
2.      Insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya.
3.      Insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga, yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional.
Klien yang telah memiliki keyakinan rasional terjadi peningkatan dalam hal :
1.      minat kepada diri sendiri,
2.      minat sosial,
3.      pengarahan diri,
4.      toleransi terhadap pihak lain,
5.      fleksibel,
6.      menerima ketidakpastian,
7.      komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya,
8.      penerimaan diri,
9.      berani mengambil risiko,
10.  menerima kenyataan.
H.    KONDISI  KONSELI
pendekatan Konseling Rasional-Emotife itu muncul disebabkan karena ketidaklogisan klien dalam berfikir. ketidaklogisan berpikir ini selalu berkaitan dan bahkan menimbulkan hambatan gangguan atau kesulitan emotional dalam melihat dan menafsirkan objek atau fakta yang dihadapinya.
Menurut konseling rational emotif ini, individu merasa dicela, diejek dan tidak diacuhkan oleh individu lain kerena ia memiliki keyakinan dan berpikir bahwa individu lain itu mencela dan tidak mengacuhkan dirinya.
Umumnya, peran klien dalam REBT mirip seorang siswa atau pelajar. Proses konseling dipandang sebagai suatu proses reedukatif di mana klien belajar cara menerapkan pikiran logis pada pemecahan masalah.
Pengamalam utama klien adalah mencapai pemahaman emosional atas sumber-sumber gangguan yang dialaminya. Pada taraf pertama, klien menjadi sadar bahwa ada anteseden tertentu yang menyebabkan timbulnya irrasional belief. Taraf kedua, klien mengakui dirinyalah yang sekarang mempertahankan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang irrasional. Tahap ketiga, klien berusaha untuk menghadapi secara rasional-emotif, memikirkannya, dan berusaha menghapus irrational belief dan mengggantinya dengan rational belief.
I.       SIKAP, PERAN DAN TUGAS KONSELOR
Tugas utama konselor dalam hal ini secara pokok ada dua:
1.      Interpersonal, yaitu membangun hubungan terapeutik, membangun rapport, dan suasana kolaboratif
2.      Organisational, yaitu bersosialisasi dengan konseli untuk memulai terapi, mengadakan proses assesmen awal, menyetujui wilayah masalah dan membangun tujuan konseling.
Konselor harus aktif dan langsung. Mereka adalah instruktur yang mengajarkan dan membetulkan kognisi konseli. Melawan keyakinan yang tertanam kuat membutuhkan lebih dari sekedar logika. Dibutuhkan repetisi dan konsistensi. Oleh karena itu, konselor harus menyimak dengan cermat untuk menemukan pernyataan tidak logisatau salah dari kliennya dan keyakionan yang bertentangan. Konselor harus cerdas, berwawasan, empatik, respek, tulus, konkret, bertekad kuat, ilmiah, berminat membantu orang lain, dan pengguna REBT.
Terapis REBT menganggap bahwa kondisi fasilitatif inti dari empati, penerimaan tanpa syarat dan keaslian sering diinginkan, namun itu tidak cukup untuk merubah dalam terapi konstruktif. Untuk membatu perubahan tersebut terjadi, terapis REBT perlu membantu klien mereka untuk melakukan hal berikut:
·         Sadarilah bahwa sebagian besar maslah psikologis ditimbulkan oleh mereka sendiri.
·         Mengakui sepenuhnya bahwa mereka mampu mengatasi masalahnya.
·         Memahami bahwa maslah mereka berasal dari sebagian besar keyakinan mereka yang irrasional.
·         Mendeteksi keyakinan irrasional dan membedakannya dengan  keyakinan rasional mereka.
·         Periksa keyakinan irasional mereka dan keyakinan rasional mereka sampai mereka melihat dengan jelas bahwa keyakinan irasional mereka adalah palsu, tidak logis dan tidak konstruktif, sementara keyakinan rasional mereka benar, masuk akal dan konstruktif.
·         Berusaha menuju internalisasi keyakinanbaru mereka yang irrasional dengan menggunakan berbagai metode kognitif (termasuk imaginal), emosi dan metode perubahan perilaku. Dalam tindakan tertentu dengan cara-cara yang konsisten dengan keyakinan rasional mereka ingin mengembangkan dan menahan diri dari bertindak dengan konsisten menggunakan keyakinan lema mereka yang irasional.
·         Perluas proses pemeriksaan keyakinan dan menggunakan metode perubahan multimodal ke daerah kehidupan mereka yang lain dan berkomitmen untuk melakukannya selama diperlukan.
Peranan konselor dalam proses konseling rasional-emotif akan nampak dengan jelas dalam langkah konseling sebagai berikut:
1.      Langkah Pertama : Dalam Langkah ini konselor berusaha menunjukkan kepada klien bahwa masalah yang dihadapinya berkaitan dengan keyakinannya yang tidak rasional.
2.      Langkah Kedua : Peranan Konselor adalah menyadarkan klien bahwa pemecahan masalah yang dihadapinya merupakan tanggung jawab sendiri.
3.      Langkah Ketiga : Konselor berperan mangajak klien menghilangkan cara berpikirdan gagasan yang tidak rasional.
4.      Langkah keempat : Peranan konselor adalah mengembangkan pandangan - pandangan yang realistis dan menghindarkan diri dari keyakinan yang tidak rasional.
J.      MEKANISME PENGUBAHAN
1.      TAHAP-TAHAP KONSELING
TAHAP I
Proses dimana konseli diperlihatkan dan disadarkan bahwa mereka tidak logis dan irrasional. Proses ini membantu klien memahami bagaimana dan mengapa dapat terjadi irrasional. Pada tahap ini konseli diajarkan bahwa mereka mempunyai potensi untuk mengubah hal tersebut.
TAHAP II
Pada tahap ini konseli dibantu untuk yakin bahwa pemikiran dan perasaan negatif tersebut dapat ditantang dan diubah. Pada tahap ini konseli mengeksplorasi ide-ide untuk menentukan tujuan-tujuan rasional. Konselor juga mendebat pikiran irasional konseli dengan menggunakan pertanyaan untuk menantang validitas ide tentang diri, orang lain dan lingkungan sekitar. Pada tahap ini konselor menggunakan teknik-teknik konseling REBT untuk membantu konseli mengembangkan pikiran rasional.
TAHAP III
Tahap akhir, konseli dibantu untuk secara terus menerus mengembangkan pikiran rsional serta mengembangkan fillosofi hidup yang rasional sehingga konseli tidak terjebak pada masalah yang disebabkan oleh pemikirian irasional.

Tahap-tahap ini merupakan proses natural dan berkelanjutan. tahap ini menggambarkan keseluruhan proses konseling yang dilalui oleh konselor dan konseli.

1 komentar:

  1. Jammin' Jars Casino | Book Now - JetBlue Spa
    Welcome to Jammin Jars Casino. Jars Hotel is located in the heart of 부산광역 출장마사지 the Las 속초 출장안마 Vegas Strip. The hotel is nestled in the 인천광역 출장샵 centre 안산 출장마사지 of the city center. 출장안마

    BalasHapus