sejujurnya, meskipun menyendiri adalah cara paling ampuh untuk menguras emosi, terkadang kita memang butuh sendirian. sendirian tidak selalu berarti kita sedang kesepian. karena selalu ada perbedaan antara sendiri dan menyendiri, antara kesepian dan menyepi.
kita butuh waktu untuk sekedar menyalakan sebatang rokok, menyeduh semangkuk mie instan, atau menghidangkan segelas kopi saset.
kita butuh menikmati perayaan dalam kesendirian. menyiram benih-benih emosi yang kian subur hanya saat kita menyendiri. suara-suara akan selalu memanggil, walau bukan untuk memiliki. maka menyendiri adalah kesempatan paling tidak manusiawi untuk menjadi diri sendiri.
kita dipaksa dan terpaksa memandang ke depan sambil melihat ke belakang. kita dituntut mengambil pelajaran dari setiap pengajaran. kita diuji dengan hingar bingardan euforia. hanya untuk menyadari dan belajar bahwa pada akhirnya kita tetap sendirian.
suatu saat, di kala kita benar-benar sudah tak dibutuhkan, suara kita tak lagi didengarkan, tulisan kita tak lagi dibaca, dan nama yang pernah disebut-sebut mulai luntur tergerus jaman, kesendirian akan selalu menjadi teman yang membebaskan.
kita adalah cahaya bulan yang tergantikan oleh senter dan lampu-lampu. semakin redup karena manusia sudah merasa mampu.
nice
BalasHapus